TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Rebu, 07 Jan 2009
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Seluk-Beluk Rumah Betawi (Bagian II) Oleh Yahya Andi Saputra

Interior - Eksterior

Menurut tradisi Betawi rumah yang belum dipasangi jendela dan pintu pantang untuk dihuni. Bahkan pemiliknya juga belum boleh menginap jika rumahnya belum sempurna. Pekerjaan terakhir adalah memasang ragam hias, apakah itu gigi balang, pucuk rebung, dan lain-lain. Lalu disempurakan lagi dengan memasang dekorasi interior dan eksterior, antara lain memasang kaligrafi (jenis lukisan kaca) berbunyi assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, bismillah, atau dua kalimat syahadat di kusen luar pintu masuk utama. Di dinding luar depan dekat jendela dipasang kapstok yang berhiasan lukisan kaca. Atau kaligrafi lain dipasang di dinding bagian dalam.

Dan yang unik lagi – kalau tidak dipasang kaligrafi – dipasang juga di tempat yang sama gambar buraq yaitu kendaraan yang digunakan oleh Rasulullah pada saat melakukan Isra Mi’raj. Buraq ini dalam deskripsi orang Betawi sebagai gambar kuda putih mulus dengan wajah perempuan cantik jelita dan bersayap keemasan. Kenapa digambarkan sedemikian rupa? Buraq itu suatu kendaraan yang berjalan sangat cepat maka digambarkan seperti kuda. Ia juga bisa terbang, digambarkan bersayap kokoh indah. Dan ia juga dapat berbicara dengan lemah lembut, maka digambarkan berwajah wanita cantik jelita. Buraq ini dalam bahasa syariatnya adalah kendaraan yang amat cepat tidak mudah dipantau saking cepatnya (ekstra-ekstra-ekstra super sonik). Kombisani warna gambar atau lukisan buraq sedemikian rupa sehingga enak dilihat.

Beranda tempat kongkou-kongkou dibatasi langkan setinggi lebih kurang 70 cm dan lebar papan atasnya 30 cm. Langkan dapat diduduki bila bangku-bangku yang ada tidak cukup menampung banyaknya tamu. Rumah orang Betawi dulunya belum menggunakan ubin/tegel tapi tanah yang dikeraskan/dipadatkan sedemikian rupa. Tanah ruang beranda dan ruang tamu disebut gejogan yang setiap minggu dipoles agar licin dan ditaburi tai gergajian. Gejogan ini sedemikian dinginnya dan jika ada tamu rebahan langsung pules atau tertidur lelap. Di risplang dipasang ragam hias gigi balang atau ragam hias flora dan fauna lainnya. Di atas risplang pasangan genteng yang menjorok ke depan tempat air hujan mengucur jatuh ke cericipan (ada juga yang menyebut cericikan). Dari cericipan dibuat selokan kecil menuju got di pinggir jalan.

Halaman rumah yang luas dengan jalan besar atau jalan raya dibatasi dengan pagar, disebut pager jaro. Tingi pagar ini sekitar satu meter dan dibuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga jika ada aktifitas keluarga di beranda dapat terlihat jelas. Di jaro biasanya menjalar pohon saga, pohon sirih dan pohon teleng yang bunganya berwarna ungu. Ketiga jenis pohon ini merupakan bahan utama obat-obatan, seperti sariawan, demam, batuk, dan lain-lain. Untuk menyembuhkan penyakit mata khususnya mata bayi, bunga teleng direndam dan air rendamannya digunakan untuk tutuh. Atau di pagar itu ditanami pula pohon prampun (asparagus). Selain dibuat dari bambu, pagar dibuat juga dengan menanam pohon perdu seperti uribang, kemuning, bluntas, sugi, andong, mangkokan, dan lain-lain.

Di halaman rumah orang Betawi biasa ditanam pohon delima dan beberapa jenis pohon lain seperti nona, belimbing, jambu klutuk, jeruk bali, dan seri. Di pojok halaman ditanam pohon kelor. Pohon kelor dianggap sebagai penangkal ilmu hitam yang dikirim orang jahat dengan memanfaatkan media teluh. Di depan rumah sebelah kanan atau kiri dibuat lobang tempat membuang sampah dan dapat pula dimanfaatkan menjadi tabunan. Gadis remaja atau anak-anak perawan biasanya pagi – sore akan menyapu halaman dan sekitar rumah. Sampah yang berupa aram (daun-daun kering) dimasukkan ke pengki lalu dibuang ke tempat sampah dan dibakar. Pembakaran sampah ini disebut nabun. Dahulu ada pula kebiasaan meletakkan tempayan atau kendi di dekat pintu gerbang rumah. Ini dimaksudkan jika ada musafir yang liwat dan kehausan dapat berhenti di sini kekadar minum atau membasuh muka dan kakinya.

Sebelum ada tanah wakaf kuburan, orang Betawi umumnya mengubur keluarga yang meninggal di halaman samping sebelah kanan. Jika kita memasuki perkampungan Betawi akan sangat banyak ditemui kuburan di samping rumah sebelah kanan.

Di samping rumah dibuat jemuran baik untuk menjemur pakaian atau menjemur emping ninjo dan bahan makanan lainnya. Sebelum tali rafia (plastik) digunakan, orang Betawi membuat tali dari kedebong pisang batu dan dijemur dijejerkan pada jemuran ini. Di samping rumah dekat dapur atau di emperan dibangun gubuk kecil sebagai lumbung tempat penyimpanan padi atau gabah, jagung, gaplek, dan biji-bijian untuk bibit (benih) seperti bibit oyong, ketimun, ketimun suri, kacang panjang, kacang tanah, bayam, pepaya, dan lain-lain. Apabila bibit ini tidak disimpan di lumbung, akan digantung di para-para bambu yang dibuat di ruang dapur. Di lumbung disimpan juga peralatan pertanian seperti pacul, pacul cangkrang, pacul garpu, garu, bangkil, pancong, parang, kampak, blencong, cangkram, linggis, alat luku, pengki, naya, keranjang, bronjong, kreneng, susug, bubung, kepis, lumpang, dan juga kayu bakar. Dapur (artinya ruang dapur) rumah orang Betawi sangat multi fungsi dan luas. Di dapur selain ada dapur itu sendiri ada pula grobog untuk menyimpan bumbu-bumbu, rempah-rempah dan makanan matang. Ada setèlèng (rak piring) dan meja tempat meletakkan kendi, ketel, teko, eskan, dan bokor serta gelas. Ada pendaringan, tempayan, dangdang, kenceng, paso, kuali, pengulekan, bakul, kukusan, tampah, tenong, lesung, pane, dan lain-lain. Ada pula bale plupuh terbuat dari bambu yang dipecahkan sebagai tempat makan bersama dan kongkou.

Bagi yang memelihara ternak seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, di belakang rumah yang jaraknya lebih kurang 20 meter dari sumur dibangun kandang. Kandang kambing, sapi, dan kuda dilengkapi dengan dongdang, kombongan/gombongan, sundung, cangklekan, dan lain-lain. Orang Betawi memelihara ternak untuk dimakan dagingnya, tapi ternak sapi untuk dikonsumsi dan dijual susunya. Susu hasil ternak orang Betawi pada dasawarsa 60-an dan 70-an sangat terkenal dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta (Yahya Andi Saputra).


Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com