TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 03 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Seluk-Beluk Rumah Betawi (Bagian III)
Oleh Yahya Andi Saputra


Hal yang amat penting lagi yaitu membuat sumur dan kakus. Ada tiga model sumur yang dibikin orang Betawi : sumur kerek, sumur gantung/sengget/senggot dan sumur engkol. Orang Betawi biasanya membuat sumur di samping rumah sebelah kiri. Ada beberapa cara untuk menentukan letak sumur. Pertama dengan menepuk-nepuk sekitar tanah di lahan yang dimaksud, jika bunyi atau suara tepukannya menadakan tanah padat, di situlah digali sumur. Kedua dengan menggelindingkan tampah. Di tempat tampah berhentilah digali sumur. Cara ketiga adalah dengan melihat rumput berembun di pagi hari terutama bila di situ ada rumah galanggasi. Rumput berembun yang ditempati galanggasi biasanya tempat subur dan menyimpan sumber air yang baik.

Setelah lokasi sumur ditemukan, dipanggillah tukang gali sumur (biasanya tiga orang). Dulu tukang gali sumur biasanya juga tukang gali kubur karena fisik mereka cukup kuat. Sekarang ini tukang gali sumur (juga tukang sumur bor) sering keliling kampung menawarkan jasa terutama di musim kemarau dan mereka berasal dari daerah Pantura. Perlengkapan tukang gali sumur adalah pacul, linggis, tambang dadung, kerekan, ember, dan pengki. Mereka mulai kerja pukul tujuh pagi, istirahat saat shalat zuhur, dan diteruskan lagi sampai pukul lima sore. Saat pekerja naik istirahat di lobang sumur diletakkan lampu minyak tanah. Jika pekerjaan akan dimulai lagi dan lampu kedapatan mati maka ini sebagai tanda sumur itu tidak baik karena dianggap ditempati mahluk halus. Kemungkinan besar sumur dibatalkan dan diuruk. Akan dicari lagi tempat baru. Begitu seterusnya.

Selain membikin sumur baru, dapat pula dimanfaatkan sumur yang ada tapi sudah lama tidak digunakan yang disebut sumur mati. Bila ingin mengaktifkan atau menggunakan sumur mati dilakukan cara khusus. Sebelum sumur diperbaiki dan dipakai terlebih dahulu dimasukkan ayam jago di kurungan ke dalam sumur. Setelah beberapa saat ayam jago itu ditarik ke atas. Bila ayam jago itu masih segar, otomatis sumur bisa dipakai lagi. Bila ayam jagonya ngap-ngapan atau mati, maka sumur tidak boleh dipakai karena dianggap ada penunggunya. Namun sumur mati masih bisa dipakai setelah penunggunya diusir. Caranya dengan memasang serenteng petasan (kira-kita satu meter) atau dengan memasukkan obor (dengan cara menaik-turunkan) dan membuat tabunan di dalamnya.

Namun itu semua sebenarnya karena dahulu orang Betawi tidak mengetahui tentang kandungan gas beracun yang ada dalam tanah. Lampu yang mati atau ayam jago yang mati itu sebenarnya tidak tahan terhadap kekuatan gas beracun itu. Memang amat bijaksana membatalkan membuat sumur yang di dalamnya mengandung zat beracun.

Jika sumur sudah selesai, lingkarannya dipasang semenan bata merah setinggi pinggang orang dewasa dan dibuat tiang di kiri-kanan, dipasangi kerekan, dilengkapi tambang dadung dan diujung tambang dadung atau tambang karet diikatkan ember lalu diujung tambang yang lain diikatkan bandulan sebagai pemberat. Kalau sumur sengget dibuat tiang yang diujung atas tiang dibuatkan senggot (penyanggah) untuk meletakkan bambu yang disebut kecuat sebagai penghubung dan tempat pengikat bambu sengget dan balu (pemberat pada ujung kecuat belakang).

Sumur belum dapat dimanfaatkan secara penuh kalau tidak ada kamar mandi. Kamar mandi 2 x 2 meter berbentuk persegi empat terbuat dari pagar gedek bambu, yang sudah diukur dan dinamakan pager kajang. Orang Betawi tidak menggunakan bak mandi, tapi digunakan padasan (terbuat dari kayu berbentuk bulat dan dibuat lobang pada sisi bawah sebagai tempat keluar air memancur) untuk menampung air. Di sini disediakan pula tahang (tahang terbuat dari kayu berbentuk bundar sekarang bentuknya serupa dengan bak bundar yang terbuat dari plastik) sebagai tempat penampungan air atau merendam cucian. Di tahang disediakan gayung dari batok kelapa sebagai alat penyiduk air. Di sekitar sisi kamar mandi biasanya ditanami pohon mangkokan, kumis kucing, katuk, andong, sugi, pandan dan pohon obat-obatan lainnya.

Sebagai tempat pembuangan air kotor, dibuat comberan yang jauhnya lebih kurang 15 meter dari sumur. Comberan dibuat persegi empat dengan ukuran 3 X 3 meter atau disesuaikan dengan lahan yang ada. Dari sumur (kamar mandi) ke comberan dibuat selokan pembuangan air. Bagi orang Betawi comberan ini digunakan pula sebagai tempat ternak ikan lele, gurame, sepat, dan mujair. Dimanfaatkan pula sebagai tempat merendam kayu (seperti telah dijelaskan di atas). Comberan orang Betawi ini jangan diidentikkan dengan comberan masa kini yang jadi tempat bersemayamnya segala macam bibit penyakit. Comberan Betawi sangat bersih sehingga ikan-ikannya dapat terlihat dengan jelas dan anak-anak dapat memancing dan main perau-perauan. Di pinggirnya dipagari bambu dan ditanami pohon pisang batu, kimpul, angsana atau jali-jali. Pohon jali-jali sebenarnya tumbuhan liar yang hidup di pinggir kali atau kalenan.

Jamban atau WC sangat penting segera dibikin dan seyogyanya berbarengan dengan pembuatan sumur. Letak jamban berada paling belakang atau paling pojok dari kebun. Modelnya adalah jamban cemplung. Bentuknya seperti sumur atau segi empat namun kedalamannya sekitar 5 meter. Lobang jamban seluruhnya ditutup dengan kayu atau bambu kecuali di tengah-tengah diameter lobang tidak ditutup sebesar 30 cm X 15 cm sebagai tempat jongkok nyemplungin hajat.

Dulu ada kebiasaan orang-orang di daerah pinggiran kalau mau buang hajat alias BAB tidak di jamban tetapi di batas kebunnya (paling belakang) dengan kebun tetangganya. Demikian pula dilakukan oleh tetangganya. Di batas itu mereka buang hajat dengan menggali tanah dan setelahnya ditutup kembali. Ini dilakukan dengan maksud membuat batas kebun dengan tumbuhan keras seperti rambutan, kecapi, jamblang, kokosan, duku dan sebagainya. Mengapa begitu? Karena dahulu orang Betawi jika makan buah-buahan (rambutan asem, rambutan nyonya, kecapi, kokosan) bijinya langsung ditelan. Emplok (biji) buah bacang, kuini, atau biji duren memang dengan sengaja dibuang di batas kebun. Jadi batas kebun itu jelas terlihat dari tumbuhan pohon-pohonan itu yang dahulunya adalah kotoran sang pemilik kebun. Pohon-pohon ini kalau besar disebut puun laki, karena rasa buahnya asem dan kalau – misalnya – ia rambutan, maka buahnya tidak nglotok. Puun laki ini sengaja dipelihara sampai besar dan tua dan nanti batang kayunya digunakan sebagai bahan bangunan. Selain itu batas kebun ditanami juga nanas merah, sereh, laos/lengkoas, kunyit, jarak, jaran, ujan, dadap, dan pete cina.

Di daerah pertanian, biasanya dibikin jamban di atas empang tempat menternak ikan tawes, gurame, emas, mujair, gabus, lele, dan lain-lain. Jamban ini disebut jeramba. Memang dulu biasanya orang Betawi seharian ada di sawahnya bila sedang bertani. Di sawah pertanian itu biasanya terdapat entuk (mata air) dan didekatnya di buat kobak tempat mandi. Di dekat kobak dibangun gubuk kecil tempat istirahat, makan dan shalat. Gubuk ini digunakan pula sebagai pos jaga burung jika sedang musim nyawah alis musim menanam padi. Sedangkan kebutuhan makan siangnya disuplai/diantar dari rumah dan tugas mengantar makanan ini adalah anak atau istrinya. Jika sawah pertaniannya lebih dekat ke sungai, dibikin pula perlengkapan mandi dan buang hajat di atas sungai.

Bila rumah benar-benar telah selesai, pemilik rumah pun tidak buru-buru menempati rumahnya. Harus terlebih dahulu diadakan upacara selamatan rumah baru. Tetangga yang diundang khususnya adalah mereka yang membantu kerja bakti membangun rumah. Tujuan selamatan ini sebagai ungkapan dan ucapan terima kasih kepada semua yang membantu dan memohon keselamatan kepada Allah bagi seluruh penghuni rumah. Setelah selesai pembangunan maka direncanakan upacara pindah rumah.

Pindah rumah bagi orang Betawi memiliki arti khusus dan strategis. Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari gempuran musim yang tidak ramah, namun lebih dari itu ia adalah tempat menyemai benih menciptakan generasi mendatang yang kokoh lahir batin. Itulah sebabnya pinde rume ini kudu disiapin semateng-matengnye. Persiapan itu membutuhkan tersedianya dana dan melibatkan seluruh tetangga, tokoh masyarakat, alim ulama, grup kesenian, bahkan pawang hujan.


Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com