|
Mengenang Si Put On
Tidak mudah melupakan tragedi 13 – 15 Mei 1998, apalagi bagi mereka yang menjadi sasaran dan korban. Seperti halnya tidak mudah melupakan
tragedi Aceh dan Maluku. Di samping harta benda musnah dan dijarah yang nilainya secara persis tak terkira, Komnas HAM melaporkan tidak kurang
dari 152 wanita Tionghoa menjadi korban perkosaan/ kekerasan seksual, sedihnya 21 di antara mereka tewas; bunuh diri atau ditewaskan. Kontroversi
merebak, percaya dan tidak percaya akan berita itu, mungkin karena tragedi Mei menjadi sorotan Internasional. Acapkali memirsa, atau membaca,
berita tentang tragedi itu, seperti halnya tragedi Maluku yang sudah berjalan 1 tahun, senantiasa perasaan diliputi kepedihan, entah apa yang
terjadi dengan masyarakat kita setelah 32 tahun dikocok gelora pembangunan. Setiap hari slogan pembangunan dan reformasi tak sepi dari retorika
pembesar negeri. Dengan tegang pembesar berkata, “jangan sampai pembangunan gagal”. Lalu jurang kaya miskin menganga, entah kerja siapa. Pembesar
tegang, masyarakat pun ikut tegang. Banyak orang mencari mangsa atas kehidupannya yang tersisih dari arena pembangunan. Ini bukan rahasia.
Maka secara sporadis huru-hara rasial terjadi dalam tahun-tahun terakhir di sejumlah kota. Beriringan dengan tragedi kemanusiaan di Aceh dan
Maluku yang memangsa rakyat tak berdosa.
Mengapa harus membangun dan bereformasi kalau ujung-ujungnya penderitaan, era di mana Si Put On dan temannya A Lioek asyik bercengkerama setiap Kemis
sore di koran ibu kota Sin Po adalah jaman dimana oleh orang sekarang disebut sebagai tidak ada pembangunan, apalagi reformasi, sebuah jaman yang kini
dituding sebagai jaman liberal. Put On menjadi personifikasi masyarakat kelas bawah yang nasibnya selalu dirundung sial namun derita dan kesialan oleh
Put On dirakit menjadi kisah jenaka. Orang menertawakan Put On padahal Put On adalah diri mereka sendiri. Orang tidak memeriksa KTP Put On, juga tidak
perduli apakah Put On urus dia punya SBKRI atau tidak. Put On adalah “gua”, gua yang susah, gua yang “apes”, gua yang tidak beruntung. Put On tetap ada
di era pembangunan dan reformasi, walau tokoh karikatur Put On itself sudah tiada, sehingga kita kehilangan tokoh yang cerdas yang doyan bercanda dengan nasib.
Karenanya hidup kita di era kini menjadi makin keras, dan tanpa arah (Ridwan Saidi).
***********
Hiburan Jalanan
Mencari hiburan di jalan tempo doeloe tidak susah, karena di simpang-simpang jalan apa yang dicari dapat ditemukan. Yang paling banyak adalah tukang obat.
Penjual obat jaman dulu mahir berbicara, pandai akrobat, dan mampu main sulap. Tukang obat tempo-tempo membawa asisten, tapi sering juga sendirian. Obat-obatan
yang dijual macam-macam, ada yang berkaitan dengan perkara seks, ada obat kumis – penjualanya biasanya bercambang dan bermisai – ada alat pembersih tubuh seperti
sabun dan obat panu. Sering orang tertarik membeli obat karena terpukau oleh gaya bicara tukang obat yang diselang-seling sulap dan akrobat.
Obat yang berkaitan dengan perkara seks yang sering dijual adalah obat penyembuh sakit mani encer, yang dia maksudkan adalah ejakulasi dini. Si Penjaja
obat dengan gaya yang meyakinkan menguraikan, dengan dibantu kapur untuk menulis di aspal, tentang penyebab mani encer yang menurut dia akibat perbuatan
masturbasi dimana jutaan sel, katanya, terbuang mubazair. Entah sel apa. Seringkali, setibanya di rumah, pembeli kecewa akan barang yang dibelinya dari
tukang obat. Ringkasnya, nyaris merasa tertipu.
Tetapi orang tidak pernah bosan mengunjungi tukang obat jalanan. Karena memang orang perlu hiburan, dan itu tersedia gratis di jalan. Pemerintahan kota tidak
menyediakan fasilitas apapun bagi tukang obat jalanan, walau tidak menghalau mereka Di jaman Belanda, tukang obat juga tidak diberi fasilitas, yang diberi
fasilitas adalah kusir delman. Di setiap simpang jalan strategis, pemerintah kota membangun kolam air dengan diameter 4 meter untuk minum kuda. Tempat ini disebut
gombongan kuda, sementara di darah Jakarta Barat disebut pos pengumben. Gombongan kuda sekaligus menjadi tempat istirahat bagi kusir delman. Di gombongan kuda ada
tukang rumput dan ada tuksng kopi.
Di sinilah kusir delman, tukang becak, penjual makanan, bertemu. Mereka berbincang-bincang, dan melepaskan lelah. Aneh, fasilitas serupa tidak tersedia di pangkalan
taksi Boplo, Harmoni, dan Olimo (Mangga Besar). Mungkin karena ada depot es yang dibikin perusahaan Petodjo Ijs.
Public services dulu diutamakan. Orang dapat berjalan kaki dengan aman karena dibangun trotoir, dimana kendaraan dilarang melintas, hatta sepeda. Halte stasion
trem dan KA terpelihara dengan baik. Orang dilarang keras merusak fasilitas umum. Hukum ditegakkan dengan konsekuen. Opas, pembantu polisi, berkeliling dengan
sepeda menjaga ketertiban.
Suasananya amat berbeda dibanding dengan jaman sekarang. Perusakan atas fasilitas umum berlangsung setiap saat. Hamba hukum tidak memegang hukum dengan konsekuen,
karena mereka lebih suka pamer kekuasaan. Jaman seperrti itu tak mungkin kembali, tapi apakah tidak perlu dipikirkan untuk memulihkan ketertiban masyarakat dan
memantapkan kewibawaan hukum? Makin hari keadaannya bukan membaik malah makin rusak. Social dicipline nyaris tak ada. Orang enggan mengantri walau di super market.
Banyak orang suka nyelak. Kepribadian yang sangat egoistik. Dan egoisme serupa itu juga sering dipertontonkan oleh petinggi pemerintahan.
Tentu saja hal ini amat menyedihkan dan sekali gus menakutkan, seolah tak seorangpun jua yang perduli atas tegaknya disiplin dan ketertiban
dalam masyarakat (Ridwan Saidi).
|