|
|
Lebaran Haji Bagi Masyarakat Betawi Oleh Yahya Andi Saputra
Idul Fitri boleh disebut lebaran utama bagi orang Betawi. Lebaran yang juga paling diramaikan adalah hari raya Idul Adha atau
lebaran aji, karena bertepatan dengan tanggal 10, 11, dan 12 bulan Dzul Hijjah. Lebaran ini menandakan saat wukuf di Padang
Arafah bagi jemaah haji dari seluruh dunia. Dua hari sebelum lebaran aji, orang Betawi berpuasa sunnah yang disebut puasa hari
Tarwiyah dan hari Arofah yaitu tanggal 8 dan 9 Dzul Hijjah. Selain berpuasa sunnah mereka yang termasuk orang mampu menyiapkan
pula hewan kurban berupa kambing, sapi, atau kerbau yang diserahkan kepada ketua masjid untuk nanti disembelih dan didistribusikan
dagingnnya kepada fakir-miskin.
Setiap orang sebenarnya diwajibkan memotong hewan kurban sekali dalam hidupnya. Bagi orang Betawi kewajiban yang sekali ini
dimanifestasikan dalam tradisi akeke/akekah. Ukuran kurban adalah seekor kambir untuk satu orang. Seekor sapi atau
kerbau untuk tujuh orang. Pemotongan hewan kurban ini dilaksanakan setelah shalat Idul Adha sampai sebelum zuhur tanggal
12 Dzul Hijjah. Bagi orang yang berkurban ada dua ketetapan yaitu kurban yang wajib dan kurban yang sunnah.
Jika saat penyerahan hewan kurban diijab-kabulkan dengan menyebut kurban yang wajib, maka ia tidak berhak atas daging kurban.
Namun jika disebutkan kurban yang sunnah, maka ia masih berhak atas daging hewan kurban yang diserahkannya dan disembelih pada
saatnya nanti.
Lebaran aji memang tidak diawali dengan hiruk-pikuk seperti halnya lebaran Idul Fitri. Idul Fitri adalah puncak dari
pelaksanaan kewajiban beribadah puasa selama sebulan. Sementara itu Idul Adha adalah proses pelengkap dari pelaksanaan
rukun Islam yang kelima yaitu kewajiban beribadah haji. Adapun puasa sunnah hanya dikerjakan oleh orang-orang yang tidak
melaksanakan ibadah haji.
Qotum alias ONH
Pelaksanaan ibadah haji bagi orang Betawi memiliki arti penting dan sakral. Orang Betawi yang islamis menyadari betul
makna melakukan ibadah haji, yaitu menyempurnakan rukun Islam. Untuk sampai pada tahap mampu melaksanakan ibadah haji,
tentu saja proses panjang telah dilaluinya. Ia merupakan keluarga yang mapan, artinya jika ada niat melakukan ibadah haji,
ia tak bermasalah. Ia tak akan menyengsarakan diri dan keluarganya. Persiapan materil dan spirituil tak diragukan lagi.
Ia pastilah orang kaya, meski profesinya sebagai petani, pedagang, atau lainnya. Atau ia pasti seorang yang tekadnya sangat
besar untuk melaksanakan ibadah haji, meski status social ekonominya tidak terlalu tinggi.
Kita ketahui bahwa biaya ongkos naik haji tidak murah. Belum lagi berapa bekal yang harus ada di kantong atau berapa rupiah yang harus
ditinggalkan untuk biaya hidup keluarga di Jakarta. Tahun 1960-an atau 1970-an, ketika harga tanah merangkak naik,
beberapa orang Betawi tergoda dan menjual tanahnya. Salah satu hasil penjualan tanah itu dibelikan qotum. Qotum adalah
istilah yang artinya sama dengan tiket pergi haji. Tersebab pergi haji menjual tanah, maka mulai beredar di masyarakat istilah
haji gusuran. Apapun istilah yang beredar di masyarakat, orang Betawi tak perduli. Bagi orang Betawi, telah tertanam melekat
dalam jiwanya semangat melaksanakan perintah agama dengan sempurna. Harta benda, apapun jenisnya, tidak akan dibawa mati.
Amal shalehlah yang senantiasa setia mengikuti kita sampai kemanapun.
Kita lihat dinamika sosial abad 19 di Betawi. Seorang Engkong berusia 790 tahun bernama Musa, imam masjid An-Nur, Sao Besar,
kerap mengumandangkan pantun dalam cerita-cerita yang disampaikan di depan jemaah masjid.
Ya Allah ya Rabbi
Nyari untung biar lebi
Biar bisa pegi haji
Jiarah kuburan Nabi
Statistik jama’ah haji Betawi dalam perbandingan dengan seluruh jama’ah dari Jawa
|
Tahun
|
Haji Betawi
|
Seluruh Haji dari Jawa
|
|
1850
|
6
|
74
|
|
1851
|
2
|
105
|
|
1852
|
21
|
416
|
|
1853
|
55
|
933
|
|
1854
|
36
|
1295
|
|
1855
|
33
|
1442
|
|
1856
|
20
|
2832
|
|
1857
|
16
|
2152
|
|
1858
|
343
|
2317
|
(Sumber: Dr. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia)
Sejak 1858 s/d 1888 rata-rata per tahun berangkat ke Mekah 250 orang Betawi, sehigga dalam tutup tahun 1888 tercatat 3846 orang Betawi yang berhaji dari total populasi Batavia waktu itu 944.146 jiwa (0,4%) angka yang menunjukkan peningkatan kemampuan ekonomi orang Betawi. Bandingkan dengan Cirebon (0,2%), Pekalongan (0,3%), Surabaya (0,3%), Yogyakarta (0,08%), Surakarta (0,08%), Bengkulu (0,2%). Prosentase tertinggi dicapai Sumatera Timur (2%).
Hamka dalam kata pendahuluan cetakan III romannya Merantau ke Deli, diperkirakan tahun 1972, mengatakan bahwa sejak seratus tahun lalu (artinya tahun 1870-an) sudah banyak saudagar pelbagai suku/daerah termasuk Betawi yang merantau ke Deli untuk berniaga, bahkan akhirnya menetap menjadi “anak Deli”. Tidak mengherankan kalau kelak pada tahun 1950-an Orkes Studio Medan dipimpin oleh anak Betawi bernama Lily Suhaery.
Keterangan ini semua menggiring kita pada kesimpulan bahwa terjadi peningkatan kemampuan ekonomis orang Betawi sejak pertengahan abad 19. Sehingga dapat dipastikan pertumbuhan kesenian, misalnya samrah, marak pada masa ini. Padahal suku Betawi sejak J.P. Coen sampai dengan tahun 1849 dilenyapkan dari segala arsip statistik dan demografi kolonial, mereka ditenggelamkan dalam ornamen istilah inlanders. Misalnya, berita koran tahun 1821 berbunyi, satu orang inlanlanders yang amat jahat uit Kwitang nama Poewasa trada ampun telah digantung batang lehernya karena telah membunuh seorang nyai nama Dasima. Kemudian hari, atau sejak itu, orang Betawi sudah dapat mengerti bahwa orang nama Poewasa adalah anak Betawi.
Apakah orang Betawi baru berhaji pada tahun 1850? Tentu saja tidak, karena Syekh Junaid al Batawi telah bermukim di Mekah jauh sebelum tahun 1850. “Kontingen Jawa di Mekah” (meminjam istilah Snouck Hurgronje), dan masyarakat Islam internasional, lebih dahulu menggunakan istilah Betawi daripada pejabat kolonial. Dan banyak pakar domestik, dan asing, dengan ta’zim memgikuti disiplin terminologi kolonial.
Pegi Belayar
Dulorang yang akan melaksanakan ibadah haji – orang Betawi menyebutnya pegi belayar karena berangkat dan pulang dengan kapal layar – dianggap sebagai orang yang sudah dimiliki oleh Allah. Keluarga atau orang-orang di kampung sudah memaafkan, mengikhlaskan, dan meridlakan kepergiannya layaknya kepergian jenazah. Itu sebabnya orang Betawi melepas keberangkatan beribadah haji dengan ekspresi kepasrahan dan suasana yang sakral. Bukan tangisan biasa yang terdengar tapi juga sampai ngegeloso seperti anak kecil minta maenan atau bahkan ada yang pingsan. Karena dianggap perjalanan hidup-mati lagi pula memakan waktu yang cukup lama (6 bulan pergi-pulang menggunakan kapal laut), maka dilepas dengan pembacaan shalawat dustur kemudian diazankan dan diiqomatkan. Karena mengunakan kapal laut maka perlengkapan yang dibawapun tidak tanggung-tanggung. Ada yang bawa cobek lengkap dengan isinya. Ada yang bawa ikan gabus kering atau dendeng. Tidak dilupakan pula duit gobangan untuk kerokan. Pokoknya apapun dapat dibawa.
Sebelum berangkat orang yang akan menunaikan ibadah haji melaksanakan acara yang disebut pertemuan haji. Sanak-saudara dan tetangga diundang untuk maulid, tahlilan, mendengarkan ceramah ibadah haji dan makan bersama. Pada acara itu para tamu biasanya memberikan bekal berupa uang, apakah uang itu nantinya dibawa atau ditinggalkan untuk kebutuhan keluarga di rumah. Ada juga kekhasan lain yang barangkali tidak dilakukan di tempat lain yaitu berupa menitipkan pas fhoto kepada orang yang akan berangkat haji. “Tulung, ye, saye nitip fhoto. Nanti kalu ude nyampe di Masjidil Haram fhoto saye diselipin di dalem Qur’an. Biar orangnye belon nyampe, tapi fhotonye pan ude nyampe. Ngkali aje taon depan dapet panggilan.” Begitu permohonan para tamu kepada jemaah haji yang akan berangkat. Permohonan itu tentu saja dikabulkan sehingga wajah sang pemohon berseri-seri.
Keberangkat jamaah haji akan diantar keluarga dan bahkan tetangga sekampung ikut pula mengantar. Dulu jamaah haji diantar sampai karantina (PHI, asrama haji) di Cempaka Putih. Pada masa lebih terdahulu lagi, Pulau Onrust juga digunakan sebagai salah satu tempat karantina jemaah haji. Ketika masih berada di karantina pihak keluarga masih datang untuk menjenguk pagi dan sore. Jika saat keberangkatan ke pelabuhan Tanjung Priok telah tiba, pihak keluarga akan ikut mengantarnya pula. Pihak pengantar inilah yang justru sangat sibuk dan membuat suasana jadi kelihatan haru. Terkadang dalam satu kampung yang berangkat haji cuma dua orang (satu keluarga, suami istri), tapi orang sekampung akan ikut mengantarkannya sampai ke pelabuhan Tanjung Priok. Pada saat sekarang jamaah haji diantar hanya sampai Asrama Haji Pondok Gede.
Pelaksanaan ibadah haji saat ini sudah sangat didukung oleh peralatan canggih, selain peraturan atau larangan yang macam-macam. Waktunyapun sangat singkat sehingga kesan yang ditimbulkannya pun biasa-biasa saja. Semua peraturan itu bertujuan memberi kemudahan bagi jamaah haji dan selayaknya ditaati.
Selama pelaksanaan ibadah haji itu keluarga yang ditinggalkan di rumah hanya berharap-harap cemas, apakah ayah-ibunya atau familinya selamat dalam melaksanakan ibadah haji. Ini karena alat komunikasi ketika itu tidak secanggih saat ini. Sekarang ini setiap rumah memiliki pesawat telepon, bahkan hampir semua orang sudah mempunyai hand phone sehingga dapat berkomunikasi setiap saat. Dan selama itu pula, keluarga di rumah yang ditinggalkan melaksanakan ratiban atau tahlilan tiap malam Jum'at. Ratib yang dibaca adalah ratib Hadad.
Kebimbangan akan keselamatan jamaah haji (khususnya ayah-ibu) masih terus mebayang bahkan sampai lebaran aji. Saat takbiran menggema di mana-mana keluarga di rumah menahan perasaan sedih. Ingat ayah-ibu yang sedang berjuang di Padang Arafah yang panas. Tanpa sadar air matanya meleleh. Meski begitu anak-anak tetap bergairah memukul bedug dari pagi dan selama malam takbiran. Di hari lebaran mereka tidak sempat memukul bedug karena sibuk nonton pemotongan hewan kurban.
Masakan lebaran aji tidak semeriah dan sekomplit lebaran Idul Fitri. Ketupat dan sayur sambel godog atau opor ayam adalah menu utama. Masakan ini akan dihidangkan setelah shalat Idul Adha. Selesai shalat Idul Adha jamaah masjid bersilaturrahmi bersalam-salaman. Dan orang-orang yang pernah melaksanakan ibadah haji terlihat sedih karena mungkin ingatan mereka tertuju ke Padang Arafah atau sedang tawaf mengelilingi Ka’bah pada saat mereka melaksanakan ibadah haji.
Motong Hewan Kurban
Setelah itu dilaksanakan pemotongan hewan kurban. Jamaah laki-laki yang sudah dewasa diminta membantu atau menjadi panitia kurban. Mereka dianjurkan membawa pisau, kampak, tambang, plastik, daun pisang, dan sebagainya. Sementara itu anak-anak hanya menonton dari kejauhan sambil belajar bagaimana cara menjatuhkan kerbau atau bagaimana memegang kambing yang akan dipotong. Tukang potong hewan kurban biasanya guru atau imam masjid. Perlengkapannya adalah golok yang sangat tajam, air kembang tujuh rupa, dan kain merah putih. Golok tukang potong hewan kurban adalah golok khusus yang memang hanya digunakan untuk memotong hewan. Ketajamannya tidak diragukan lagi dan ini memang disunnahkan karena menurut perintah agama agar hewan yang disembelih tidak merasakan sakit. Kita dapat mebayangkan seberapa tajam golok itu jika digunakan tidak membuat atau menimbulkan rasa sakit bagi hewan kurbqn disembelih.
Hewan yang sudah dipotong akan dipisahkan antara daging, isi perut, dan bagian lainnya. Selanjutnya daging-daging itu dipotong dan dimasukkan ke dalam plakstik sesuai ukuran. Daging-daging ini akan dibagikan kepada fakir miskin dengan adil dan merata. Tukang potong selain mendapat daging, dapat pula kulit kambing, kepala kerbau atau sekadar uang potong.
Menunggu Pulang
Seminggu setelah lebaran aji suasana kampung akan kembali semarak. Kali ini warga kampung terutama keluarga yang familinya menunaikan ibadah haji akan sibuk mempersiapkan kepulangan. Di ruang tengah sudah digelar tikar/karpet dan disiapkan kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi terutama sayur asem, pecak ikan gurame dan makanan segar lainnya yang tidak dijumpai di tanah suci.
Sementara rumah ditata, sebagian keluarga pergi menjemput ke pelabuhan Tanjung Priok. Memang kepulangan jamaah haji sangat ditunggu-tunggu. Ketika jamah haji sampai di rumah, akan dipasang petasan. Pembakaran petasan ini sebagai tanda kepada warga kampung bahwa Bapak dan Ibu haji sudah tiba dirumahnya dengan selamat dan sehat wal afiat. Maka tetangga datang berbondong-bondong untuk mengucapkan selamat. Selain itu para tetangga ini mengarapkan oleh-oleh yang dibawa dari tanah suci. Oleh-oleh yang biasanya tidak pernah luput adalah air zamzam, siwak, pacar, sipat mata, korma, tasbih, sajadah, kacang Arab, kismis, rumput fatimah, dan lain-lain.
Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah seminggu. Dan bagi orang Betawi, jamah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya untuk santai atau kongkou-kongkou sebelum empat puluh hari.
|
|
Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com
|