TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Rebu, 08 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Albert Einsten & IQ


Pada satu pertemuan Abert Einsten memperkenalkan dirinya kepada eorang pria yang pertama ia temukan dan segera bertanya: “Berapakah IQ anda?” “241,” jawab pria tesebut “Menakjubkan !” kata Albert. “Kita akan dapat banyak bicara tentang teori unifikasi yang agung dan misteri alam semesta. Kita akan banyak berdikusi!” Albert kemudian memperkenalkan dirinya kepada seorang wanita yang berdiri di dekatnya, sambil bertanya, “Berapakah IQ anda?” Si wanita menjawab, “144” “Menyenangkan !” kata Albert. “Kita dapat berdikusi tentang politik dan masalah –masalah aktual yang kini ada. Kita akan banyak berdikusi!” Kemudian dia berkeliling ruangan, Albert tertarik kepada pria lainnya yang berada di sampingnya dan bertanya, “Berapa IQ Anda?” dan dijawab oleh pria tersebut “51” Albert segera mengulurkan tangannya dan meraih tangan pria tesebut untuk berjabat tangan, kemudian dia berkata, “Hallo Tuan Presiden!”

Di pasar burung

Seorang laki-laki pergi kepasar burung untuk membeli seekor burung kakatua. Tukang burung menunjukkan tiga ekor burung kakatua yang sedang bertengger berjejer di sangkarnya dan berkata : “ Burung yang paling kiri harganya dua juta.” “ Walah, mengapa mahal betul ?” katanya dengan kaget. Tukang burung menjawab, “Iye dong, karna burung ini pinter banget, bukan aje bisa ngomong tapi dia juga ngarti komputer.” Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan bertanya harga burung yang di sebelahnya . “Nyang itu, lebih mahal lagi, hargenye empat juta, sebab dia lebih pinter lagi, bisa segalanya, die penter ngomong dalam semua bahasa, die juga pinter main sinetron dan ngarti segala macam sistim komputer.” Orang itu tambah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nah kalau yang satu lagi berapa harganya ?’ Sambil menunjuk ke arah burung kakatua yang ketiga yang kelihatannya sedang terkatuk-katuk kekenyangan dan matanya terpejam . “Kalau nyang itu delapan juta aje !” jawab tukang burung “Walah! Mahalnya kebangetan. Memangnya dia punya kebiasaan apa?” kata orang itu. “ Sebetulnye sih terus terang aje. Saya nggak pernah lihat kebiasaannye, tapi burung kakatua yang lainnye panggil dia boss!”

JIBRUT, Jago Ketek Dari Pasar Baru

Pantjoran pusat dagang dan pasar baru Bermacam-macam barang ada disitu Orang datang belanja ini dan itu Ramai orang beribu-ribu Lagu ini diciptakan oleh NN sekitar tahun 1931 setelah Hindia Belanda lepas dari resesi berkepanjangan sejak 1929. 25 tahun kemudian situasi pasar baru tidak berubah meski, Belanda sudah pergi. Dari toko musik terdengar lagu empuk alunan Patty Page semisal Changing Partner. Selam 6 tahun, setiap hari penulis melintas pasar baru untuk perg dan pulang dari SMP dan SMA. Berjalan –jalan di pasar baru amat menyenangkan karena selalu ada hiburan gratis dari si Jibrut, entah siapa namanya yang benar dan si Mariam. Kalau Mariam suka ngaco, sering omong porno seolah baru main seks dengan tokoh dunia, tapi jibrut lain . Jibrut cuman bercelana komprang dengan sebilah golok disoren. Ia bukan jagoan, ia jago main ketek. Ketiak kiri dan kanannya dapat menerbitkan suara yang aneh, kadang misterius, bola digesek dengan telapak tangannya . Pre-brut-pret-brut, begitu bunyinya kadang-kadang kwik-kwik-kwik, karena itu ia dipanggil si jibrut. Ia meminta jasa atas hiburan yang ia sajikan kepada pejalan kaki, tapi tidak memaksa. Sebenarnya Jibrut membuat orang rikuh, ia menadahkan tangannya yang baru daja dipakai menggosok ketek. Jibrut tidak memahami perasaan orang tapi. Tapi apa boleh buat tangan manusia cuman dua . Di tahun 1950-an itu mungkin usia Jibrut 35, asalnya entah dari mana. Ia selalu berjalan tegap membawa tubuhnya yang gempal serta nasibnya sebagai anak manusia. Sejak tahun 1970-an saya sudah amat jarang melintas pasar baru dan kabar tentang Jibrut tak lagi saya dengar. Kalau Jibrut beroperasi hanya di pasar baru, daerah operasi Mariam lebih luas lagi. Tatkala terbit orde baru, Mariam lebih suka beroperasi berjualan cerita porno di daerah salemba. Di pasar baru ia kurang pasaran, entah mengapa ada saja mahasiswa yang suka menanggapi kisah porno Mariam . Seperti halnya Jibrut, Si Mariam pun lama tak terdengar beritanya lagi.

Ancol, dulu dan sekarang

Dari monyet Si Kondor, Soekarno Tower, sampai pusat belanja seks. Dipantai Batavia dari ujung bela kulon sampai bela etan berjejer kampung-kampung yaitu Japad, Bandan Ancol, Koja, Cilincing dan Marunda. Penghuni berdatangan sari pelbagai penjuru Nusantara. Adapun mukimin awal adalah mereka yang disebut Betawi pesisir. Proses islamilasi pertama yang terencana oleh sunan Ampel Denta selam 5 tahun ( 1522- 1527 ), dan orang Betawi pesisirlah yang menjadi target audience-nya . Sebelumnya pada abad ke-14, orang Betawi pesisir yang berminat pada Islam berguru di pesantren kuro Krawang. Pesantren ini menjadi terkenal karena salah seorang santri puterinya yaitu Nyai Subang Larang dipersunting sebagai selir oleh prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah kerabat kraton pertama yang muslim yaitu Prabu Kyan Santang. Seberapa banyak tersisa populasi Betawi pesisir kiranya sulit diterka, karena pada tahun 1982 tidak kurang dari 100.000 jiwa dievakuasi dari Jakarta Utara oleh Gurbenur Tjokropranolo, saking jengkelnya Gokar sulit menang di Jakarta. Arkian, Ancol berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tempat yang banyak airnya. Di zaman kolonial sekitar abad 18, Ancol merupakan tempat tamasya yang difavoritkan oleh nyonya-nyonya kumpeni. Pihak kolonial memelihara lingkungan Ancol sehingga Ancol merupalan komsen yang menyenangkan, karena dari titik mana orang akan dengan enak memandang ombak laut Tanjung Priok – ketika itu belum dibangun pelabuhan, pesawat sunter dan kapal serta prau yang menuju Pantai Boom baru, pasar ikan untuk berlabuh. Sampai dengan masa ini tidak ada bangunan yang berdiri di Ancol melainkan sebuah klenteng. Baru pada sekitar tahun 1860-an berdiri sebuah villa mewah Bintang Mas milik pemuda Tionghoa Playboy cap kampak bernama Oei Tambahsia. Oei tewas ditiang gantungan pada tahun 1872 karena terbukti membunuh pesinden asal pekalongan, isteri orang yang disimpan di villanya selama berbulan-bulan. Penulis menduga Oeilah orang yang berada dibalik pembunuhan gadis Betawi Ariah yang kemudian hari dengan keji manusia modern menuduhnya sebagai setan Ancol. Lingkungan Ancol asri dan berseri sehingga elit pemerintahan dan militer Belanda memilih dikubur di Ancol. Pemakaman mana hingga sekarang masih terpelihara. Hutam-hutan Ancol dihuni banyak monyet yang tidak menganggu manisia. Pada sekitar awal abad ke 20 pemerintah koloniual memberi konsensi empang kepada mereka yang berminat pada perikanan darat. Maka jika panen bandeng tiba, berton-ton bandeng diangkut dari dari empang Ancol. Hal mana mamakmurkan ekonomi orang Betawi. Karena petambak bandeng kebanyakan orang betawi. Kendati Jaro atau centeng penjaga empang tidak banyak. Namun sedikit sekali orang melakukan pencurian ditambak. Mereka yang berminat pada ikan pergi mengail di Ancol, jika ingin sukses, pengail sebelumnya berdamai dengan monyet Si kondor. Si kondor adalah raja monyet. Disebut si kondor karena biji pelernya membengkak berhubung hernia. Monyet yang tinggi besar ini sering mencegat mereka yang pergi mengail. Setelah Si kondor diberi kacang, barulah pengail dibolehkan menuju kepantai. Masa indah ancol tidak berlansung lama. Gurbenur DKI Henk Ngantung mengumumkan bahwa di Ancol akan segera dibangun Soekarno Tower. Katanya tower ini berfungsi untuk kontrol pesawat yang akan landing di Airport Kemayoran. Orang sih percaya aja maklumlah pengetahuan teknologi di tahun 1960-an masih terbatas . Maka terjadilah penggusuran besar-besaran empang Ancol. Orang-orang Betawi dipaksa menjual empangnya dengan harga murah. Maklumlah untuk proyek Soekarno, siapa berani dengan Soekarno waktu itu. Empang diuruk, empang ditebas, monyet pada kabur. Dan tunggu punya tunggu hingga rezim orla ambruk berganti dengan orba . Dengan cekatan pengusaha-pengusaha orba memanfaatkan Ancol. Maka muncullah pusat penjualan seks terbesar di Jakarta, di pantai yang dulu indah dan berseri. Sebelum diprotes rakyat di Ancol juga penjudi dapat berjudi seasyiknya, karena disitu berdiri casino terbesar. Tentu saja Ancol tidak semata-mata identik dengan sperma. Di Ancol juga ada tempat bermain kanak-kanak yang jelas tidak akan pernah terjangkau harga tiketnya oleh anak-anak orang Betawi pesisir. Bisnis hiburan di Ancol mendatangkan fulus. Siapa menggaruk keuntungan?



Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com