|
Suryani Motik
Mengelola usaha becak sampai ekspor ular
Ibu dua anak ini dalam menggumuli bisnis agak unik juga. Suryani memulainya dari mengatur manajemen usaha becak,
rumah kontrakan, mikrolet, ekspor ular hidup, konsultan sampai kepada pembuatan geneng keramik.
Bahkan mulai merambah ke sektor agrobisnis.
Banyak usaha dan aktif dalam organisasi, mengantar jebolan IKIP Jakarta dan tiga perguruan tinggi di
AS ke tampuk pimpinan di Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) 1997-2004. Termsuk beberapa organisasi
usaha lain sebagai ketua.
“Semula saya nggak begitu tertarik bidang manajemen usaha. Itu sebabnya saya lebih memilih jurusan biologi di IKIP.
Tapi karena pengaruh teman-teman ketika mendapat bea sisewa master di AS, ya mau tidak mau berubah pikiran ke manajeman,” paparnya.
Meskipun begitu, dalam soal manajemen, dia sudah punya pengalaman sejak masih di SMA. Ketika ayahnya membuka usaha rumah kontrakan,
pemasok bahan baku pabrik sepatu, mikrolet dan becak, dia dilibatkan dalam urusan pembukuan. Hari-harinya dihabiskan
pada usaha keluarga tersebut.
“Sebagai anak pertama, saya harus banyak membantu ayah. Termasuk mengurus soal perjanjian sewa kontrak rumah.
Maklum, kami dari keluaga keturunan Betawi jumlah rumah pun cukup banyak. Ya sekitar 30-an. Apalagi becak,
di era 1980-an jumlah becak ayah di Jakarta terbesar,” ungkapnya.
Dia memang banyak belajar dari ayahnya. Jadi tidak mengherankan ketika orangtuanya wafat pada 1980,
Suryani mampu mengambil alih usaha keluarga.
“Ayah wafat pada saat saya masih kuliah di IKIP semester pertama. Bisa dibayangkan tangung jawab saya
selaku anak pertama yang dibebani tugas mengatur seluruh usaha tersebut. Padahal di usia itu keinginan
bermain cukup tinggi, tapi meskipun penampilan saya tomboy tidak pernah melakukan hal seperti itu.”
Usaha warisan itu kemudian dikembangkan, bersama keluarga lainnya dia membuka yayasan pendidikan, mulai dari
tingkat SD hingga SMA.”Setelah lulus IKIP saya mendapat bea siswa untuk mengambi master di AS. Mulanya saya
bersikukuh pada bidang biologi, tapi teman-teman kuliah di AS mempengaruhi saya untuk pindah jurusan ke manajemen.”
Pengeruh itu membuatnya terdampar di manajemen dan adminisrasi. Sejak 1986 sampai 1989 dia berhasil meraih gelar master
di George Washington University (Pengembangan Sumberdaya Manusia), Catholic University Washington (Administrasi Pendidikan)
dan Maryland University (Manajemen Sumberdaya Manusia).
“Sepulang dari AS saya kemudian menikah. Saya sudah tidak mengurusi usaha keluarga lagi. Saya diminta suami terlibat dalam
usaha pembuatan pabrik kaos kaki, bekerja sama dengan pengusaha Korea. Bukannya saya menolak, karena ada pertimbangan lain,
saya lebih memilih buka usaha ekspor ular hidup,” cerita Suryani.
Mulanya usaha pengiriman reptil itu berjalan lancar, tapi karena ada benturan soal perizinan yang berbelit-belit bisnis itu
pun akhirnya disudahi. “Padahal saya sudah dijuluki ‘Ratu Ular’ ketika itu. Ya, terpaksalah ditanggalkan.
Namun usaha saya nggak berhenti begitu saja, bersama suami lalu bikin pabrik genteng beton yang sekarang ini kami
alihkan jadi genteng keramik. Sukses, memang,” urainya seraya menambahkan bisnis itu kembali terpuruk setelah negeri
ini dilanda krisis moneter.
Untuk urusan yang satu itu perempuan kelahiran Jakarta 17 Juli 1961 dan dikenal sebagai aktivis sejak masih kuliah,
tidak mengenal istilah menyerah. Saat ini dia merambah ke sektor agribisnis dan bersama-sama Pemda Yogyakarta mengelola
usaha pembuatan alat-alat pertanian serta pakan ternak.
|