TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Rebu, 08 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Sylviana Murni Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI


Ingin Selalu Mencoba Tantangan Baru
Cerdas dan memiliki integritas tinggi, itulah sosok dari Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta. Sylvi—begitu ia akrab disapa—memiliki komitmen yang amat luar biasa dalam memajukan dunia pendidikan di ibu kota. Bahkan, perempuan kelahiran Jakarta 11 Oktober 1958 lalu, tidak kenal kompromi dalam hal sekolah gratis di ibu kota. Pihaknya akan mengawasi secara ketat kemungkinan masih ada pungutan yang dilakukan pihak sekolah terhadap orang tua murid. “Jika ditemukan ada pungutan terhadap orang tua murid, saya akan tindak tegas,” ujarnya.

Langkah ini diambil menyusul diberlakukannya pendidikan gratis bagi siswa di Jakarta. Kabarnya, Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) untuk mendukung program sekolah gratis tersebut akan dikucurkan akhir bulan ini.

Nampaknya ketegasan dan kecermatannya dalam menangani bidang pendidikan ini sejalur dengan gelar doktor bidang manajemen pendidikan yang disandangnya sejak tahun 2003 dari Universitas Negeri Jakarta.

Di kampus yang telah menghasilkan ratusan ribu pendidik dan pakar pendidikan tersebut Sylviana meraih gelar doktornya dalam waktu relatif singkat, hanya dua tahun. Nilai IPK saat kelulusannya pun terbilang cemerlang yaitu 3,85 dengan predikat cum laude. "Bahkan saat sidang terbuka yang dihadiri sejumlah guru besar UNJ dan kepala sekolah di ibu kota, saya mendapat nilai 3,98," ungkapnya.

Kembali mengenai BOS dan BOP, mantan None Jakarta tahun 1981 ini menegaskan penyaluran kedua dana tersebut akan dilakukan Bank DKI dengan mekanisme langsung di kirim ke rekening setiap sekolah. “Penggunaan sistem ini agar lebih transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil itu mengatakan, dana BOS yang bersumber dari APBN sebesar Rp 332 miliar. Sedangkan dana BOP yang berasal dari APBD DKI tahun 2006 sebesar Rp 698 miliar. Total siswa yang berhak menerima dana tersebut, yaitu sebanyak 127 ribu dari 2.500 siswa di Jakarta. Rinciannya, dari BOS sebesar Rp 19.500,- dan dari BOP Rp 50.000,-. Sedangkan siswa SMP Negeri mendapat jatah Rp 127.500,- dengan rincian dari BOS Rp 27.500,- dan dari BOP Rp 100.000,-.

Berdasarkan data yang diperoleh, siswa SD di Jakarta berjumlah 600 ribu orang. Sedangkan siswa SMP berjumlah 220 ribu orang. Dari jumlah itu, 135 ribu siswa SD di antaranya tidak mampu dan 22 ribu SMP tidak mampu. Perempuan berkacamata ini juga memiliki peran sangat besar dalam hal peningkatan uang kesra guru di DKI Jakarta. Alhasil, tahun 2006 ini, setiap guru akan menerima uang kesra sebesar Rp 2 juta/bulan.

Menurutnya, uang kesra ini sangat penting untuk meningkatkan loyalitas dan profesionalitas seorang guru dalam melaksanakan profesinya. “Saya bersyurkur uang kesra guru tidak jadi dicoret Depdagri,” ungkap mantan Kepala Biro Bina Sosial DKI (1999-2001).

Selain memiliki komitmen dalam dunia pendidikan, puteri ketiga dari sepuluh bersaudara pasangan Betawi asli, almarhum Kol (Purn) HD Moerdjani dan Hj. Ni´mah ini tetap menjalankan aktivitas keagamaannya diantara sekian banyak jadwal kegiatannya. Menurut wanita yang bersuamikan H. Gde Sardjana, SE ini apa yang ia capai dalam karirnya juga tidak terpisahkan dengan kegemarannya dalam berorganisasi. Tidak berlebihan jika ia mengatakan kegiatan berorganisasi itu sebagai "the first university" ketimbang sarana pendidikan formal semacam sekolah maupun kampus. Oleh karenannya, segudang jabatan organisasi masih dipegangnya hingga kini.

Sejak SMP Sylviana sudah menjadi pengurus Karang Taruna di kampungnya, Kelurahan Pisangan Timur, Jakarta Timur hingga 1975. Kemudian menjadi Sekretaris Osis SMAN XII, Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya (1977-1979), Kabid Ekstern Kohati HMI Cabang Jakarta (1978), Waka Kohati PB HMI (1981), Kabid Organisasi Himpunan Wanita Karya Jakarta Timur (1983-1984), Sekretaris Generasi Muda Kosgoro DKI (1987-1992), Sekretaris Bamus Betawi (1988-2001), Sekretaris Umum Persatuan Wanita Betawi (PWB) pada 1988-1993. Bahkan, posisi Ketua Peranan Wanita Iwarda sejak 1990 masih dijabatnya hinga kini. Termasuk, menjabat Ketua II Bidang Hubungan Kerja sama Antar Lembaga Bamus Betawi (2001-2005) dan Wakil Ketua III Pengda PMI DKI (2001-sekarang). Saat ini dengan gelar doktor yang disandangnya, pihak Bamus Betawi menempatkannya dalam Dewan Pakar Bamus Betawi.

"Sejak SMP saya sudah aktif di organisasi siswa intra sekolah (OSIS) dan Karang Taruna. Ketika kuliah menjadi aktivis HMI," kenang Sylviana yang lahir pada ini. Selesai kuliah, dirinya masih melanjutkan aktivitas di berbagai organisasi-baik organisasi budaya seperti organisasi kebetawian, organisasi wanita dan organisasi sosial seperti penanggulangan narkoba, GN-OTA, Kowani, dan sebagainya. "Itu karena organisasi menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan saya," kata wanita yang terlahir sebagai orang Betawi, latar belakang yang relatif masih jarang ditemukan dalam jajaran pejabat Pemprop DKI selama ini.

Kesadaran jender juga ia warisi dari keluarganya dan kemudian menginspirasikan dia untuk mendirikan organisasi baru yang lebih kental dengan unsur ke-Betawian pada 1984. Bersama sejumlah tokoh perempuan Betawi, Sylviana membentuk Persatuan Wanita Betawi (PWB) yang sekarang diketuai Ny Hj Poppy Suryani Petra Lumbun.

Kini, HUT PWB itu diperingati bertepatan dengan lahirnya pelopor emansipasi wanita Indonesia, Kartini, tanggal 21 April. Pasalnya, PWB memang berdiri pada 21 April 1984 yang diprakarsai tokoh-tokoh wanita Betawi DKI seperti Nini Bowo dan Sylviana Murni CS. Dimana dalam kiprahnya, PWB turut sebagai anggota Badan Kerja sama Organisasi-organisasi Wanita (BKOW) sebagai lembaga perempuan yang diakui di tingkat nasional.

Sylviana memulai karir PNS di Pemprop DKI sejak 1985 sebagai staf penatar BP-7 DKI (1985-1987), staf Biro Bina Mental (Bintal) pada 1987-1989, Kasubag Pendidikan Luar Sekolah Biro Bintal (1989-1991), Kasubag Seni Budaya Biro Bintal (1991-1995), Kabag Kebudayaan Biro Bintal (1995-1997), anggota DPRD DKI Periode (1997-1999), Karo Bina Sosial DKI (1999-2001). Dan, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCS) DKI tahun 2001-2004. Sejak 2005 hingga sekarang dia dipercayakan menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI.

Dalam jenjang karirnya saat tak terlupakan ketika ia menerima tantangan dan kepercayaan sebagai anggota DPRD. Kesempatan ini datang menjelang Reformasi 1998, Sylviana sempat cuti di luar tanggungan negara karena terpilih menjadi anggota DPRD DKI Periode 1997-1999.





Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com