TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Rebu, 08 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
DATO JADI RAKSASA Cerpen Yahya Andi Saputra

Tiga alasan mengapa ia mengidentifikasi dirinya dato. Usia, pengalaman hidup yang warna-warni, dan paling memahami segala sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan masyarakatnya. Itu sebabnya ia merasa memiliki wibawa mengatur dan mengarahkan adat-istiadat komunitasnya. Sebagai orang yang baru melek kehidupan, saya jadi salah seorang paling hormat dan mengaguminya. Apalagi ketika Dato menjadikan saya ‘teman’ dalam mengarungi dan menggali makna hidup. Ko, mau-maunya ia menggandeng saya menghadiri pertemuan-pertemuan sesama orang besar. Atau mendatangi pelosok kampung tempat ia begitu dihormati. Kebanggaan saya rasanya nyundul langit. Betapa tidak? Dato adalah tokoh dan politisi papan atas yang anti kemapanan. Ia sangat disegani kawan maupun lawan. Hampir seluruh hidupnya didarmabaktikan untuk masyarakat dan dunia politik. Sebagai politisi, Dato tanggap membaca pikiran orang selain piawai berdebat dan bersiasat. Sementara saya cuma pemuda belon dalu yang sehari-hari tinggal di kampung sambil ngangon kambing dan ngarit. Sesekali dipanggil ngaji tunggu kubur bulan Syawal habis lebaran. Atau pembawa acara pada perayaan muludan dan pernikahan dengan upacara adat. Bagi saya Dato adalah teman, kakak, orangtua, guru, dan segala-galanya. Belakangan saya tahu bahwa Jalil, Pidin, Zaim, Makmun, dan anak muda pantaran saya sekitar tanah Betawi amat menghormatinya. Bahkan mereka menjadi kader dan memproklamirkan diri jadi pengikut setia.

Meski Betawi asli, saya tak paham arti kata dato. Dalam obrolan sehari-hari Dato sering menjelaskan patut tradisi yang berlaku pada masyarakatnya. Ia katakan bahwa bagi masyarakat Betawi, titel dato hanya disandang oleh orang-orang yang memiliki kepatutan, baik secara adat maupun keunggulan religius dan ilmu pengetahuan.

“Dato itu orang paling tinggi dalam stratifikasi kepemimpinan masyarakat Betawi,” kata Dato suatu sore di hari Minggu.

“Kalu emang paling tinggi, yang paling rendah siapa?” tanya saya dengan bahasa dan pemahaman orang kampung.

“Sebelon jadi dato, seseorang yang pengen jadi pemimpin kudu liwatin tiga jenjang.”

Lalu Dato menjelaskan secara ketil segala sesuatu yang berhubungan dengan arti dato. Orang Betawi memberi gelar keagamaan kepada tokoh agama dengan peringkat sebagai berikut: Ustadz adalah pengajar agama pemula yang mengajar perukunan, istinja, Qur’an kecil, shalawat, doa-doa pendek. Mualim adalah orang yang cukup pengetahuan agamanya, dapat mengajar kitab, namun belum mempunyai hak berfatwa, biasanya memberi khutbah Jum’at. Guru, lengkapnya Tuan Guru atau Wa Guru, adalah orang yang luas ilmu agamanya, menguasai sesuatu bidang ilmu agama secara mendalam, misalnya tafsir atau falak, ahli mengajar kitab, kadang-kadang memberi khutbah Jum’at, dan boleh mengeluarkan fatwa. Guru sama dengan titel kyai pada masa sekarang. Sampai tahun 1950-an gelar kyai tak dikenal dalam komunitas Islam Betawi. Dan Dato, berasal dari bahasa Melayu Polinesia, adalah seorang yang mempunyai fadhilah dan tentu saja sangat luas ilmu agama maupun ilmu-ilmu lainnya.

“Kalu gitu dato itu pemimpin keagamaan?”

“Kaga percis begitu! Dari dulu orang kite kenal dua macem kepemimpinan. Satu dari lempengan agama, satunye lagi dari lempengan jago atau jagoan.”

Saya hanya mengangguk dan garuk-garuk kepala. Lalu Dato menjelaskan meski ada dua tipe kepemimpinan masyarakat Betawi, tapi di antara mereka tak terjadi perebutan pengaruh. Masing-masing berpengaruh pada lempengan komunitasnya. Dalam banyak hal jagoan menghormati para pemimpin keagamaan. Para jagoan sadar bahwa ustaz, mualim, guru, dan dato memiliki kelebihan dan keutamaan yang dibutuhkan oleh jagoan. Misalnya amalan atau jampe-jampe untuk mencapai tingkat tertentu dalam ilmu maen pukulan (silat) dipelajari dari ahli agama. Wafak dan isim di golok atau dalam lembaran kain putih yang dimiliki para jagoan dikerjakan oleh ahli agama. Itu sebabnya setinggi apa pun ilmu maen pukulan jagoan, niscaya hormatnya kepada ahli agama tak bisa ditutup-tutupi. Jaman dulu umumnya jagoan diangkat menjadi bek karena keahliannya dalam ilmu maen pukulan tapi tetap minta nasehat kepada ahli agama. Umumnya ustaz, mualim, guru, dan dato ahli di bidang agama, tapi mereka pun menguasai ilmu-ilmu non-agama dengan amat baik. Ilmu maen pukulan, misalnya.

“Sedangkan kelebihan dato dari lainnya, seperti tadi ude gue sebut, selaen jadi panutan, juga sumber legitimasi adat dan hukum. Pokoknya, dato-lah yang memberi fatwa memutuskan masalah yang berhubungan dengan hukum Islam.” lanjutnya bersemangat.

“Apa guru dan dato bisa disebut ahli tarekat juga?” tanya saya.

“Belum tentu! Awalnya para guru dan dato Betawi dapat dikatakan menentang faham tarekat.” jawab Dato.

“Lo, kok gitu?” tanya saya heran.

“Itu kaga bearti bahwa paham tarekat ngga berkembang di Betawi. Kalu kite liat seni mačn pukulan yang berkembang dan amat populer di segenap penjuru Betawi, jelas mempunyai keterkaitan dengan ajaran tarekat. Misalnya pada ajaran mupus dan kena’at.”

“Jenis ajaran apa itu, To?”

“Mupus yaitu menghilang sementara waktu dalam arti sesungguhnya untuk mempertinggi kekuatan non-fisik. Sedangkan kena’at yaitu puasa total selama beberapa hari, biasanya 40 hari, seraya menjalani siksaan fisikal. Mupus dan kena’at mengandung nuansa tarekat yang kentel.”

Saya mengangguk. Saya pun berketetapan hati bahwa panggilan atau titel dato sangat tepat disandangnya. Itu saya hubungkan dengan semua ide atau pemikirannya tentang perkembangan masyarakat dan kepatutan budaya Betawi. Dari semua orang Betawi yang mengaku sebagai tokoh masyarakat, hanya Dato yang kecerdasan dan kepintarannya paling mumpuni. Maka saya kemudian diikuti Jalil, Pidin, Zaim, Makmun, dan anak muda pantaran saya sekitar tanah Betawi memanggilnya Dato.

****

Suatu hari Dato membuat sebuah perahu. Saya ingat ketika itu huru-hara yang meluluhlantakan semua aspek kemasyarakatan baru saja terjadi. Dengan perahunya Dato bercita-cita membawa muatan atau pesan-pesan tajam perkara persatuan bangsa, perkara penentangannya terhadap perilaku diskriminasi rasial, dan perkara ketidakadilan sosial dalam masyarakat.

“Tapi sasaran kritik tidak diperlakukan dengan rendah, melengken martabat yang bersangkutan tetap dijaga. Dalam pelayaran kita kaga nyari musuh. Prau kita memposisikan diri sebagai sarana sambung rasa sesama anak bangsa. Dalam keadaan serba sibuk dan serba cepat seperti sekarang, ampir kita lupain eksistensi diri sendiri. Mengka itu di dalem prau ini kita semua melakukan dialog batin berbicara tentang diri kita sendiri, makna kehadiran kita di tengah masyarakat, dan bagaimana masyarakat memandang kita.” Begitu Dato memberikan makna filosofis bagi rancangan perahu yang akan dibuatnya. Saya hanya mengangguk.

Dato begitu bersemangat mencari jenis batang kayu yang cocok dijadikan perahu yang direncanakannya. Tak terlalu sukar bagi Dato mencari apa yang diinginkannya. Kayu yang dibutuhkan ditemukan. Mulailah proses pembuatannya. Siang malam Dato memeras kepala dan mengucurkan keringat. Dato pun kerap minta masukan beberapa tokoh ahli. Tak berhitung tahun perahu pun jadi. Sayalah orang pertama yang diajak naik.

“Ini prau kita. Biar belon sempurna, ente ikut naek,” kata Dato bersemangat sambil menyeka keringat di dahinya. Saya lagi-lagi mengangguk sekaligus bangga karena diajak menaiki perahu yang dibuatnya.

“Sambil belayar kita bagusin ‘ni prau. Ajak si Jalil, Pidin, Zaim, Makmun. Entar biar bantuin ngecat dan bikin ragam hias khas Betawi atawa ragam hias apa aja asal pas dan enak diliat,” lanjut Dato.

“Prau kita termasuk model klasik dengan muatan pembauran dan persatuan. Tapi prau kita mempunyai cara dayung yang khas, bahkan unik. Dengan kekhasan dan keunikan itulah kita coba tampil percaya diri.” Dato memang doyan ngomong dan terlampau bersemangat dalam upaya merealisasikan pemikirannya. Ia tak akan ngaso sebelum cita-citanya mewujud.

Sebagai pengagum Dato, Jalil, Pidin, Zaim, dan Makmun merasa seperti mendapat rejeki nomplok ketika diajak naik perahu dan mendayung bersama-sama. Dalam sekejap kami sudah serasi. Layaknya anak baru gede yang cekikikan nongkrong di mal. Jarak usia Dato dan kami yang cukup jauh tak menjadi halangan. Kami mengarungi gelombang lautan dalam suka dan duka. Kami kompak, selalu bersama, dan bersama. Selalu tertawa dan tertawa.

Meski belum cantik benar, perahu rancangan Dato mendapat tanggapan positif dari segenap masyarakat. Itu pun atas usaha Dato berkampanye di segala tempat sepanjang waktu. Ia pun menjadi salah satu perahu alternatif yang coba ditumpangi publik. Umumnya mereka adalah politisi, cendekiawan, budayawan, eksekutif, dan snobis. Bahkan kaum Indonesianist, pemerhati transportasi di luar negeri, menaruh minat besar kepada perahu kami. Mereka menyatakan dukungan yang luar biasa. Alasan mereka meminati perahu racikan Dato karena perahu ini berbobot istimewa namun didayung secara ringan bahkan kadang-kadang penumpang seperti diajak bercanda.

“Kita pengen siape aje yang ada di dalem prau akan tersenyum atawa gumbira. Apa pun dapat diketawain tanpa nyakitin siapa-siapa,” kata Dato berbinar-binar. Dus, menurut keyakinan Dato, di masa depan perahunya sangat potensial menjadi perahu yang membuat penumpangnya fanatik. Adanya penumpang fanatikus terhadap satu perahu memang gaya hidup jaman lampau. Dato tak merisaukan gaya hidup jaman kuda gigit besi atau jaman apa. Ia ingin mempunyai fanatikus yang tersebar sampai di pelosok-pelosok terpencil Nusantara. Lebih dari semua ia akan memberikan contoh dan bimbingan bagaimana masyarakat multikultural tetap utuh sebagai satu bangunan kokoh dan indah.

*****

Hampir dua dasawarsa saya mengikuti aktivitas keseharian Dato. Seringkali saya memposisikan diri menjadi pesuruh dan pelayannya. Bahkan dalam beberapa hal saya memperhinakan diri dan bersedia menjadi keset kakinya. Lantaran itu saya cukup kenal karakternya. Jalil, Pidin, Zaim, dan Makmun sering mengorek informasi prihal kepribadian Dato kepada saya. Tentu tak satu informasi pun yang dapat ditafsirkan negatif tentang kepribadian Dato.

Di segala tempat dan ke berbagai komunitas masyarakat, nama Dato saya junjung tinggi. Saya selalu membawa perlengkapan make up kemanapun pergi. Maksudnya jika suatu kali wajah Dato dibuat pucat dan keriput oleh lawan politik atau orang yang tak menyukainya, saya dapat segera merias wajahnya sehingga tetap memancarkan cahaya cemerlang. Jika saya sudah mengambil posisi seperti itu, Jalil, Pidin, Zaim, dan Makmun akan habis-habisan mentertawakan sambil menyebut saya dongo. Saya tak peduli dengan mulut mereka yang sering bau busuk. Maklum Jalil, Pidin, Zaim, dan Makmun adalah pemuda produk reformasi yang bicara blak-blakan.

Dato yang dalam alam pikiran saya hampir mencapai maqom wali, tiba-tiba saja berubah tanpa sebab-musabab jelas apalagi masuk akal. Wajahnya yang lembut kebapaan sekejap saja menjadi raksasa dengan mata belo, caling, lidah menjulur, dan rambut jabrig sejabrig-jabrignya. Saya, Jalil, Pidin, Zaim, dan Makmun saling pandang. Sejurus kemudian kami ngumpet ke balik drum menghindari tatapan matanya yang membakar dan lidahnya yang berubah pedang.

“Elu semue kaga ade gunenye. Angguran lu mampus pade!” bentak Dato sambil kacak pinggang mata melotot.

“Sabar, Dato. Emang ade ape?” tanya Zaim setengah berteriak.

“Bener, Dato. Tulung Dato jelasin duduk sualnye. Kita bingung sebab mendadak sontak Dato robah sikap dan kita jadi serba salah. Apa Dato kesambet setan si Yakop,” kata Pidin memohon dan berargumen.

“Kapan Dato yang dulu ngajak kita belayar naek prau. Pan enak kalu kita duduk selesein sual jangan gerabag-gerubug kaya gini rupa,” Jalil menimpali. Wajah Dato merah padam tanda amarahnya sampai embun-embunan.

“Pokonye ini tempo kaga ade duduk-duduk selesein sual. Semua sual ude beres!” jawab Dato. Tatap matanya tambah menakutkan. Saya makin tak mengerti apa yang dikehendaki atau strategi apa yang tengah disusunnya.

Perahu oleng. Dato mengeluarkan kepandaiannya maen pukulan memukul ke segala arah. Perahu makin oleng. Kami belingsatan. Tiba-tiba Jalil terpelanting dan dengan mudah Dato menangkapnya. Tangan Jalil diplintir. Lehernya dibekuk. Langsung dilempar ke laut. Jalil gelagapan karena tak bisa berenang. Zaim melemparkan dadung menolong Jalil. Saya yang masih menduga-duga perubahan karakter Dato, mendapat kemplangan dayung dan terjerembab menimpa ember plastik. Saya menangis sambil mengusap jidat yang berdarah.

Dalam keadaan pusing dan limbung tersebab kemplangan Dato, saya ingat cerita Haji Ni beberapa waktu lalu. Haji Ni dan Dato berteman sejak kecil. Bahkan di antara keduanya ada hubungan darah dari garis kakek. Saya sering diajak Dato mampir ke rumah Haji Ni sekadar ngobrol atau diskusi berbagai masalah.

“Jangan kaget kalu ente ketemu Dato sekali tempo tobeatnye berubah 180 derajat. Malaan seratus kali lebih serem dari yang ente bayangin!” begitu Haji Ni mulai cerita.

“Maksudnye serem pegimane?”

“Pokonye entar lu tau sendiri, deh!”

“Tulung ceritain, deh, Wa Aji. Jangan deminin aye jadi linglung.”

“Bae. Tapi ‘ni cerite cuman buat turu-turu kite doang. Jangan masup ke kuping laen orang,” Haji Ni celingukan. Kuatir kalau Dato tiba-tiba muncul dan kami sedang membicarakannya. Saya mengangguk dan berjanji pegang rahasia. Sambil sekali lagi celingukan, Haji Ni cerita.

Dato dikenal orang sebagai sosok pemikir dan politisi tanpa cela. Ide dan pemikirannya menjadi rujukan semua kalangan baik lokal maupun mancanegara. Namanya harum dan jaminan mutu. Namun penghormatan publik yang begitu besar membuat ia tak tuntas menata hidup. Ada langkah kecil yang terlewat dan tak sengaja dibiarkan. Maka terciptalah sisi gelap dalam hidupnya. Sisi gelap itulah yang tak pernah dapat dikendalikan. Tiap berusaha mengendalikan ia hanya membenturkan kepala ke tembok tebal. Jika ia menambah kekuatan maka sisi gelap kian kuat pula membentengi dirinya. Sisi gelap itu adalah rumahnya. Ia tak pernah bisa mengendalikan rumahnya sendiri. Rumah jadi titik kontras dalam hidupnya. Di luar ia begitu perkasa di rumah bagaikan kapas basah. Karena hanya menjadi budak dari kekuatan rumah yang begitu dahsyat ia sering mengumbar kekuatan di luar rumah. Semakin melorot wibawa di rumah makin besar kekuatan atau wibawa yang diperlihatkan di luar rumah. Ia mempunyai kendala psikologis akut, yang membuat wataknya menunjukkan perilaku menyimpang sehingga mengalami kesulitan dalam pergaulan.

Dato kehabisan akal. Halusinasinya menyergap hawa murni yang terpancar dari kejeniusannya. Fisiknya benar-benar berubah menjadi raksasa hakiki. Kata dato yang selama ini sarat keluhuran dan kemuliaan hancur tersebab ulahnya. Perahu yang dengan penuh kecintaan dibuat dan kami turut merapikan dibocori. Kami merusaha menambal dan mencari akal untuk menyelamatkan perahu dan jiwa kami. Tak berhasil. Air laut masuk makin deras. Sementara gelombang laut kian ganas. Kami kehabisan tenaga. Perahu dan kami ditelan laut bergemuruh bergulung-gulung. Alam raya alangkah gelap-gulitanya.

Saya tak sadarkan diri dalam hantaman badai lautan. Entah berapa jam atau berapa hari tak sadar. Ketika sadar saya berada di sebuah pulau dan beberapa penghuninya memberi pertolongan. Saya lihat Jalil, Zaim, Pidin, dan Makmun masih tergeletak di pasir dengan napas tersengal dan mulut mengeluarkan air. Orang-orang menolong mereka.

Tapi Dato, di mana ia? Saya pun memanggil keras, sekeras-kerasnya.

Jakarta, Januari 2004.

Glossary

Melčk : terbuka (mata), memahami (kiasan)

Nyundul : (kepala) menyentuh sesuatu benda yang berada di atas

Belon dalu : belum masak (buah), belum dewasa

Ngangon : menggembala

Ngarit : menyabit rumput

Ngaji tunggu kubur : membaca Alqur’an di tanah wakaf kuburan

Muludan : peringatan kelahiran Nabi Muhammad

Pantaran (sepantaran): sebaya

Patut/kepatutan : sesuai dengan adat-istiadat

Ketil : rinci

Perukunan : asas atau dasar (ilmu tauhid atau fikih)

Istinja : cara membersihkan kotoran/najis

Fadhilah : keutamaan

Lempengan : jalur

Amalan : bacaan (mantra) yang harus dikerjakan dalam rangkaian ibadah

Jampé : mantra

Wafak : mantra berupa tulisan dan kode tertentu

Isim : tulisan (nama Tuhan) yang digunakan sebagai mantra

Bčk (Wijkmeester, Bld.) : lurah, kepala kampung jaman Belanda

Melčngken : melainkan

Mengka : karena

Doyan ngomong : suka berbicara

Ngaso : istirahat

Rejeki nomplok : mendapat rejeki besar tanpa diduga sebelumnya

Blak-blakan : tanpa tedeng aling-aling, terus terang

Maqom : tingkat, posisi tertentu dalam sufi

Bélo : besar dan lebar (tentang mata)

Caling : taring

Jabrig : lebat dan kaku (tentang rambut)

Kesambet : dirasuki roh jahat

Setan si Yakop : hantu yang diyakini berasal dari salah seorang anggota Marsose (korp non-militer yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda abad ke-19).

Embun-embunan : ubun-ubun

Mendadak sontak : tiba-tiba saja

Gerabag-gerubug : berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa

Belingsatan : bergerak tak tentu arah

Gelagapan : megap-megap, susah bernapas

Dadung : tambang, tali besar

Kemplangan : dipukul menggunakan kayu, alat pemukul dari kayu dsb

Tobčatnyé : perangainya, wataknya

Turu-turu : intern

Deminin : biarkan

Celingukan : melihat sekitar untuk memeriksa situasi



Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com