|
|
Orkes Sambrah
Sejak dahulu berbagai macam suku bangsa ada di Betawi. Penduduk Betawi disebut majemuk. Selain orang Betawi, di antara mereka ada orang Melayu, Arab, India, Jawa,
Sunda, dan lain-lain. Sehari-hari mereka bergaul. Saling menghormati dan membantu. Sepakat untuk bersatu dalam susah dan senang. Orang-orang itu kemudian melahirkan
Orkes Sambrah.
Sambrah berasal dari kata bahasa Arab, samarokh. Samarokh artinya berkumpul atau pesta dan santai. Kata samarokh oleh orang Betawi diucapkan menjadi sambrah.
Dalam kesenian Betawi, sambrah menjadi orkes sambrah dan tonil sambrah serta tari sambrah.
Orkes Sambrah adalah ansambel musik Betawi. Instrumen musiknya antara lain : harmonium, biola, gitas, string bas, tamburin, marakas, banyo, dan bas betot.
Dalam menyajikan sebuah lagu, unsur alat musik harmonium sangat dominan. Maka orkes sambrah disebut pula sebagai orkes harmonium. Orkes ini dimanfaatkan
sebagai sarana hiburan dalam berbagai acara. Terutama untuk memeriahkan resepsi pesta pernikahan.
Orang yang baru pertama mendengar lagu sambrah akan menyebutnya sebagai lagu Melayu. Memang umumnya lagu-lagu Melayu diadopsi sebagai lagu sambrah Betawi.
Itu sebabnya orkes sambrah sangat dipengaruhi unsur Melayu.
Tujuan kehadiran orkes sambrah sejak awal untuk berkumpul sambil santai. Karena itu tidak ada unsur ghaib dalam penampilannya. Meski begitu lagu-lagu orkes
sambrah berisi nasehat dan saling mencintai sesama makhluk. Judul lahu orkes sambraha antara lain : Assamaualaikum, Buruh Putih, Cendrawsaih, Cik Abang,
Godaan Setan, Musalma, Nangka Muda, Pakpung Pak Mustape, Penyakit Cinta, Sawo Mateng, Teluk Jakarta, Senandung Jakarta, dan sebagainya.
Kini perkumpulan Orkes Sambrah yang masih eksis adalah Sanggar Rumpun Melayu, pimpinan M. Ali Sabeni dan Sanggar Firman Muntaco, pimpinan Fifi Muntaco.
Orkes Gambus
Orkes Gambus dahulu dikenal dengan sebutan irama Padang Pasir. Pada tahun 1940-an orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Bagi orang Betawi, tanpa nanggap
gambus pada pesta perkawinan atau khitanan dan sebagainya terasa kurang sempurna.
Menurut Munif Bahasuan, orkes gambus sudah ada di Betawi awal abad ke 19. Saat itu banyak imigram dari Hadramaut (Yaman Selatan) dan Gujarat datang ke Betawi.
Kalau walisongo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, imigram Hadramaut menggunakangambus.
Awalnya orkes gambus membawakan lagu dengan syair bahasa Arab. Syair itu berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah.
Kemudian gambus berkembang menjadin sarana hiburan.
Orkes gambus tidak bisa dipisahkan dari Syech Albar dari Surabaya dan SM Alaydrus. Kedua orang ini merupakan musisi gambus terkenal pada tahun 1940-an.
SM Alaydrus berhasil mengembangkan orkes harmonium yang pada tahun 1950 menjadi orkes Melayu. Syech Albar mempertahankan tradisi gambus.
Sampai tahun 1940-an lagu gambus masih berorientasi ke Yaman Selatan. Setelah Bioskop Alhamra di Sawah Besar banyak memutar film Mesir, lagu gambus berorientasi
ke Mesir. Film-film Mesir yang diputar banyak lagunya. Maka nama Umi Kalsoum, Abdul Wahab, dan Farid Alatras dikenal dan lagu-lagunya ditiru.
Sampai tahun 1950-an orkes gambus makin terkenal. Orkes gambus mengisi siaran di RRI tiap malam Jum’at. Dua grup yang selalu tampil di RRI adalah Orkes
Gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfie dan Orkes Gambus Al-Wathan pimpinan Hasan Alaydrus.
Tahun 1960-an orkes gambus mulai menurun. Politik Demokrasi Terpimpin melarang kesenian yang berbau asing. Tahun 1990-an orkes gambus mulai bangkit
kembali.di Indonesia. Salah satu grup yang terkenal saat ini adalah Arrominiah pimpinan H. Hendy Supandi.
Keroncong Tugu
Keroncong Tugu dahulu sering disebut Cafrinho Tugu. Orang-orang keturunan Portugis (Mestizo) telah memainkan musik ini sejak tahun 1661. Ketika itu
masih disebut keroncong asli. Kerena musik ini diperkenalkan oleh keturunan Portugis, jenis iramnya dipengaruhi unsur kesenian bangsa Portugis.
Pengaruh Portugis itu dapat diketahui dari jenis irama lagunya. Misalnya moresko, frounga, kafrinyo, dan nina bobo. Dari irama lagu moresko
kemudian lahir keroncong moresco.
Keroncong Tugu tidak jauh beda dengan keroncong pada umumnya. Tapi juga bukan sama persis. Keroncong Tugu berirama lebih cepat. Irama yang lebih
cepat ini disebabkan oleh suara ukulele yang memainkannya digaruk seluruh senanrnya. Berbeda dengan keroncong Solo atau Yogya yang iramanya lebih lambat.
Keroncong Tugu pada mulanya dimainkan oleh 3 atau 4 orang. Alat musiknya hanya 3 buah gitar, yaitu : gitar Frounga yang berukuran besar dengan 4 dawai,
gitar Monica berukuran sedang dengan 3-4 dawai, dan gitar Jitera yang berukuran keci dengan 5 dawai. Syair lagu-lagunya kebanyakan masih menggunakan
bahasa Portugis. Meskipun syair berbahasa Portugis, namun cara pengucapannya sudah terpengaruh dialek Betawi Kampung Tugu.
Selanjutnya alat musik Keroncong Tugu ditambah dengan suling, biola, rebana, mandolin, cello, kempul, dan triangle (besi segi tiga). Dulu sering
membawakan lagu berirama melankolis, diperluas dengan irama pantu, irama stambul, irama Melayu, langgam keroncong, dan langgam Jawa..
Irama lagu Keroncong Tugu hampir semuanya menggunakan ketukan 4/4. Seluruh nadanya menggunakan nada mayor. Irama lagu yang seprti ini membuat
Keroncong Tugu bisa dipakai untuk menari atau berdansa. Tetspi ciri khas yang utam dari Keroncong Tugu adalah keroncong Moresco. Keroncong
Moresco termasuk jenis irama yang paling tua. Bahkan dari jenis keroncong Moresco timbulnya keroncong pada umumnya. Dalam catatan sejarah,
lagu keroncong yang pertama di Indonesia adalah Keroncong Moresco.
Keroncong Tugu masih sering pentas pada berbagai tempat dan kesempatan. Apakah pesta perkawinan, ulang tahun, persemian, jamuan makan, menyambut
tamu asing, dan sebagainya. Tokoh Keroncong Tugu saat ini adalah Samuel Quiko, memimpin Keroncong Tugu Cafrinho.
|
|
Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com
|