|
Eksistensi Kebudayaan Melayu Betawi (1) Oleh Ridwan Saidi
Latar belakang sejarah,
Boleh dikatakan tidak ada sukubangsa di Indonesia yang harus membuktikan identitas kesukuannya
melalui DNA test selain sukubangsa Melayu Betawi.
Eksistensi sukubangsa ini dipersoalkan keabsahannya oleh seorang sarjana dalam dan luar negeri,
khususnya Australia, beberapa orang pakar ilmu social, linguistik, dan antropologi. Yang mereka
persoalkan pertama-tama nama sukubangsa yang dikatakannya berasal dari Batavia, nama kota
Jakarta di masa penjajahan.
Berangkat dari asal nama sukubangsa versi mereka, maka dimustahilkan keaslian, dan keabsahan,
sukubangsa ini. Niscayalah orang Melayu Betawi itu suku bangsa jadi-jadian yang tidak jelas asal
muasalnya melainkan campuran dari budak belian yang didatangkan penjajah Belanda dari India dan
pelosok kawasan IndonesiaTimur. Kemudian berkawin mawinlah mereka itu, entah dengan siapa mengingat
budak belian itu laki-laki belaka, lalu muncullah sekerumunan orang yang tanpa sesuatu upacara
mengaku dirinya sukubangsa Melayu Betawi. Tidak lupa migrasi Cina juga ikut membentuk sukubangsa
Betawi. Dan orang Cina pun menjadi Melayu Betawi, sebagaimana orang Arab kapan saja mereka suka mengakuinya.
Kota Batavia sejak tahun 1619-1670 merupakan kota tertutup (binnenstad) yang luasnya hanya mencakup
daerah Pasar Ikan sekarang. Sejak perampasan pelabuhan Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527 penduduk
asli telah meninggalkan daerah pelabuhan karena 3000 buah rumah kediamannya dihancurkan dan dibakar
oleh Fatahillah, sebagaimana laporan Portugis De Quoto tahun 1531.
Menurut Prof. Bern Nathofer, Frankfurt University, sebagaimana dikutip oleh Prof James T. Mc Collin,
University of California, dalam Dialog Borneo tahun 1995, migrasi orang Melayu ke Jakarta setidaknya
telah terjadi sejak abad X Masehi.
Di dalam bahasa Melayu Brunei perkataan betawi bermakna subang, anting-anting. Ini sejalan dengan hasil
penggalian di situs Babelan, Bekasi, yang menemukan begitu banyak subang. Subang juga menjadi nama tempat
yang tidak berjauhan letaknya dengan Bekasi.
Testamen Nyonya Inqua isteri seorang Kapiten Tionghoa yang dibuat pada tahun 1644 menyebutkan bahwa ia mempunyai
pekerja permpuan Betawi.
Tetapi argumentasi ini tidak cukup bagi Prof Lance Castle untuk melancarkan tuduhan dalam tulisannya Ethnic
Profile of Jakarta, 1970, bahwa orang Betawi itu keturunan budak belian (slave) yang berasal dari India dan
kawasan timur Indonesia yang dipekerjakan oleh penjajah Belanda. Tuduhan itu diaminkan secara berjama’ah
oleh pakar domestik sepeti telah tersebut.
Atas dasar ini saya ikut mendorong dilakukannya DNA test terhadap orang Melayu Betawi. Dan test itu dilakukan oleh
Saudari Wolly Candramila yang mengikuti program pascasarjana Institut Pertanian Bogor tahun 2002.
Dalam penelitian sampel dilakukan pengambilan darah atau sel epitel rongga mulut yang meliputi 78 orang yang
menurut orang lain dan pengakuannya sendiri mereka adalah orang Betawi dengan perunutan tiga keturunan. Tempat
tinggal mereka meliputi seluruh wilayah kebudayaan Betawi. Kesimpulannya antara lain:
Ditemukan lima haplotipe dalam sampel populasi Betawi yang dianalisis. Kedua kelompok, (Betawi Tengah dan Betawi
Pinggir, RS) memiliki sebaran haplotipe yang sama, kecuali ditemukannya haplotipe IV dan V dengan kelompok berbeda.
Haplotipe IV dimiliki oleh satu individu dalam Kelompok (Betawi) Pinggir, sedangkan haplotipe V dimiliki oleh satu
individu Kelompok (Betawi) Tengah. Kedua haplotipe merupakan hasil mutasi individual dalam Kelompok Tengah. Kedua
haplotipe merupakan hasil mutasi individual yang belum tersebar dalam populasi.
Populasi Betawi berasal dari tiga garis ibu berhaplotipe I, II, dan III. Haplotipe I ditemukan pula pada populasi
Sunda dan Melayu. Haplotipe II dan III dibawa oleh wanita yang berasal dari etnis-etnis di luar Jakarta, selain
Sunda dan Melayu, tetapi masih di dalam Indonesia. Tidak ditemukan bukti adanya migrasi wanita dari Cina atau
India ke dalam populasi Betawi.
Dapat saya katakan di sini orang Betawi itu berdarah Melayu atas dasar pembuktian melalui DNA test. Suku bangsa
Betawi adalah orang Melayu. Orang Cina dan orang Arab berasal dari ras berbeda, mereka bukan orang Melayu.
Nama sukubangsa Melayu Betawi tak dapat dipergunakan, atau dipinjam, oleh mereka yang mengalami krisis indentitas
dalam proses pengIndonesiaan yang tak kunjung selesai dan tak pula punya arah.
Sukubangsa Melayu Betawi merupakan suku delapan besar dalam jajaran suku-suku bangsa di Indonesia berdasarkan statistik
2002. Meski pun di Jakarta jumlah mereka mencapai 27% saja dari total populasi Jakarta (10,5 juta), tetapi populasi
Melayu Betawi tersebar di Bekasi, Tangerang, Depok dalam jumlah yang signifikan. Daerah ini tergolong wilayah kebudayaan Betawi.
|