|
Masyarakat Betawi Masa Prasejarah Oleh Yahya Andi Saputra
Masyarakat Betawi sudah bermukin di Jakarta diperkirakan sejak 2500-15 SM. Ini jelas soheh lantaran pemukin yang bermukim di daeran ini sejak lebih
kurang jaman Prasejarah khususnya sejak jaman Batubaru atau masa Masyarkat Bercocok tanam. Masa ini menurut pendapat beberapa ahli antara lain Robert
von Heine Geldern dan W.G. Solheim diperkirakan dari 2500-15 SM. Yang sebenarnya tidak begitu berbeda dengan perkiraan pengendapan lumpur yang membentuk
dataran alluvium daerah Jakarta sebagaimana diperkirakan Verstappen yaitu 5000 tahun lalu.
Dugaan waktu di atas didasarkan kepada temuan bukti-bukti arkeologis yaitu artefak baik yang pernah dihimpun pada masa Hindia-Belanda dan telah diinventarisasi
Th.a.Th van der Hoop dan benda-bendanya tersimpan dalam koleksi Museum Nasional kini, ditambah dengan hasil-hasil ekskavasi di situs Kalapa Dua sekitar tahun 1971.
Alat-alat atau artefak itu ada yang berupa kapak persegi, beliung, serpihan batu, mute, gelang batu, bahkan pecahan-pecahan kreweng atau gerabah, yang menarik
perhatian dalam daftar inventaris Museum yang telah dilakukan van Der Hoop ternyata ada sebuah alat batu yang diperkirakan pacul temuan dari daerah Jatinegara.
Tempat-tempat temuan alat-alat batu dari jaman Batubaru atau Masa Bercocok Tanam itu di daerah Jakarta dan sekitarnya adalah : Pasar Minggu, Pasar Rebo, Tanjung Timur,
Kampung Salak dekat Pesing, Kampung Sukabumi, Cililitan, Sunter, Condet di tepi jalan Jakarta-Bogor, dekat stasiun Jatinegara, kampung Kranggan, dekat Pasar Rebo,
kampung Karang tengah, Pasar Jum’at, Kebayoran, Karet, Gedung Ijo Pasar Jum’at, Pondok Betung-Ciputat, Kebayoran Lama, kampung Pulo Jatinegara, Kebon Sirih, Cawang,
kampung Cipayung-Kebayoran, Pondong Pinang-Kebayoran, Kebon Pala-Jatinegara, Kebon Nanas, Rawa Belong-Kebayoran, Rawa Lele, Kampung Kalapa Dua dan di beberapa tempat lainnya.
Berdasarkan tempat temuan itu yang karena banyaknya alat-alat yang ditemukan dengan sejumlah pecahan tembikar dan batu asahan serta letaknya di pinggir sungai Ciliwung
yang memungkinkan adanya pemukiman masyarakat masa itu antara lain di Kalapa Dua. Apalagi keletakannya di pinggir sungai Ciliwung dan artefak-artefak itu hasil ekskavasi
arkeologis tahun 1971 seperti telah dikemukakan di atas. Sejak masa itu lazim masyarakatnya sudah mengenal tempat tinggal yang tetap dengan pengetahuan membangun perumahan,
mengenal bercocok tanam di tanah darat, sudah mengenal organisasi sosial dengan pemimpin sukunya yang dipilih anggota-anggota masyarakatnya, sudah mengenal perdagangan meski
cara barter, mengenal pelayaran, ilmu perbintangan, mengenal pembuatan pakaian, memasak makanan dengan cara dibakar dan direbus, mengal ilmu perbinatangan dan lainnya.
Pendek kata masyarakat masa itu sudah berkebudayaan tinggi sebelum kehadiran orang-orang India seperti pernah dikemukakan oleh beberapa ahli asing seperti J.L.A. Brandes,
N. J. Krom, F.D.K. Bosch dan lainnya. Berdasarkan banyak situs temuan jelas bahwa daerah Jakarta sejak masa Prasejarah itu sudah pernah ditempati atau sekurang-kurangnya
telah dijelajahi komunitas masyarakat masa itu dalam mencari penghidupannya. Meskipun kita tidak mengetahui jumlah kependudukan waktu itu ada pendapat pada jaman masyarakat
Bercocok tanam atau Batubaru diperkirakan dua keluarga per Km persegi. Masyarakat yang berhubungan dengan masa itu biasanya dikaitkan dengan nenenk moyang bangsa Indonesia
yang disebut jenis bangsa Austronesia yang semula menempati daerah dataran Asia Tengara antara Yunan dan Tonkin.
Dengan ditemukan berbagai peralatan dari masa berikutnya yaitu masa Kebudayaan Logam atau juga disebut perundagian, lebih kurang sejak 500 SM di beberapa temapt di wilayah
Jakarta yang dibuat dari logam perunggu dan besi, memberikan bukti adanya kesinambungan kehidupan masyarakat dengan kebudayaannya, paling tidak betul-betul mengenal 7 unsur
universal kebudayaan sebagaimana lazim dimiliki suatu kelompok apakah clan atau suku suatu masayarakat. Benda-benda atau artefak dari perunggu-besi itu antara lain berupa
kapak sepatu atau corong, tombak, bekas coran besi, sisa-sisa besi. Alat-alat itu ditemukan dari situs Kalapa Dua, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Pasar Minggu dan Jatinegara.
Dengan temuan alat-alat itu jelas dalam kehidupan masyarakat sudah timbul dan berkembang pengetahuan logam dan teknologi pembuatan alat-alat dari logam dengan mungkin
cara pencoran dalam cetakan (bevalve) atau mungkin dengan teknik pelelehan lilin (a cire perdue). Kecuali itu dengan munculnya pengetahuan logam atau metalurgi muncul pula
golongan masyarakat tertentu yang mungkin dapat disebut golongan tukang pande besi, pedagang, pembuat gerabah dan lainnya yang membentuk lapisan kependudukan berdasarkan
kekaryaan. Kehidupan masyarakat di daerah Jakarta sejak masa itu makin berkembang dan bilamana sejak abad-abad pertama mulai berhubungan dengan orang-orang India terjadi
proses akulturasi diantara kedua kebudayaan itu dan timbullah kebudayaan yang bercorak Indonesia-Hindu/Budha, dan kerajaan tertua di Pulau Jawa ialah Kerajaan Taruma.
Masyarakat Betawi Masa Kerajaan Taruma
Sejak abad-abad pertama Masehi telah tejadi pelayaran dan perdangan internasional melalui Selat Malaka dimana orang-orang India dan orang-orang dari kepulauan
Indonesia mulai berkenalan apakah melalui perdagangan dan yang khusus menyampaikan agama Hindu ialah kaum Brahmana. Dengan kontaknya masyarakat yang bertempat
tinggal di daerah Jakarta lambat laun proses akulturasi yang antara lain menghasilkan munculnya bentuk pemerintahan yang berbentuk kerajaan yang dikenal sejak
pertengahan abad kelima sebagai Kerajaan Taruma dengan penguasanya bernama Maharaja Purnawarman. Nama kerajaan dan nama rajanya dapat kita ketahui dari sumber primair
ialah prasasti yang jumlahnya 7 buah : Prasasti Tugu (Jakarta Utara), Prasasti Ciaruteun (Ciampea-Bogor), Prassti Kebon Kopi (Ciampea-Bogor), Prasasti Jambu (Bogor),
Prasasti Pasir Angin (Bogor), Prasasti Muara Cianten (Ciampea-Bogor, belum dapat dibaca) dan Prasasti Munjul (Cidangiang-Lebak, Banten). Tulisan pada prasasti-prasasti
itu adalah huruf Pallawa dan bahasanya Sangsekerta, tidak ada angka tahun tetapi berdasarkan pada palaeogra didiperkirakan para ahli berasal dari pertengahan abad ke
5 Masehi dan merupakan prasasti yang tertua di Pulau Jawa.
Di India penggunaan huruf Pallawa itu ada pada masa dinasti Pallawa kerajaan yang berkembang di India bagian Selatan. Bahasa yang dipergunakan adalah Sangsekerta,
dalam bentuk syair. Bahasa Sangsekerta di India biasanya hanya dikenal oleh kaum Brahmana atau kaum pendeta agama Hindu dengan kemahirannya membaca kitab-kita Veda.
Kecuali itu dalam Prasasti Tugu diantaranya menyebutkan para Brahmana justru yang memimpin upacara keagamaan Hidu bagi Kerajaan Taruma. Berdasarkan prasasti-prasasti
itu di atas yang telah diteliti dan dibaca oleh para ahli kecuali epigraf bangsa Belanda juga bangsa kita ialah R.M.Ng. Poerbatjaraka, maka dapat kita simpulkan arti
pentingnya sbb:
a. Sejak pertengahan abad ke 5 M, masyarakat di daerah Jakarta dan sekitanya lebih khusus di lingkungan kerajaan mengenal agama Hindu dan bentuk Kerajaan
Indonesia-Hindu dengan Maharajanya Purnawarman yang memerintah kerajaan Taruma yang meliputi daerah Jakarta, Bekasi sampai Citarum, daerah Bogor dan daerah Banten.
b. Dalam Prasasti Tugu disebutkan bahwa Maharaja Purnawarman telah menggali sungai Candrabhaga yang mengalirkan airnya ke laut setelah sampai di istana kerajaan
yang termashur. Pada pemerintahan keduapuluhduanya Maharaja Purnawarman memerintahkan lagi menggali sungai Gomati yang permai dan airnya jernih setelah mengalir
di tengah-tengah tanah kediaman yang mulia Sang Pendeta nenekda. Penggalian sungai itu dimulai tanggal 8 Paro Petang bulan Phalguna dan berakhir tanggal 13 Paro
Terang bulan Caitra, jadi dalam 21 hari dan panjngnya Gomati 6122 tumbak. Dan selamatan untuk itu dilakukan oleh para Brahmana dan dihadiahkan 1000 ekor sapi;
c. Keagamaan yang dianut Maharaja dan tentunya dengan masyarakat terutama di pusat kerajaan adalah jelas agama Hindu dan lebih khusus lagi rupa-rupanya Maharaja
Purnawarman penganut dewa Wisnu, mengingat pada baris keempat Prasasti Ciaruteun dikatakan bahwa sepasang kaki yang dipahatkan dan dihubungkan kedua jari kakinya
oleh labah-labah diibaratkan sepasang kaki dewa Wisnu;
d. Dalam prasasti-prasasti dari masa Maharaja Purnawarman terdapat tulisan yang mengandung gambaran kekuasaannya dan penaklukkan terhadap kerajaan-kerajaan lainnya;
e. Upaya penggalian sungai Candrabhaga dan Gomati merupakan upaya Maharaja Purnawarman yang mungkin diantaranya bertujuan mengurangi banjir di musim penghujan karena
dikerjakan pada bulan-bulan Phalguna dan Caitra yang bersamaan dengan bulanFebruari sampai April yang secara teoritis biasanya bulan-bulan mulai reda musim penghujan;
f. Karena disebut-sebut tentang istana maka ibukota Kerajaan Taruma mungkin terletak di daerah Jakarta; ada pendapat mungkin di daerah Cakung (Noorduyn dan Verstappen),
dan ada pula yang mengira di sekitar Kali Bekasi (Poerbatjaraka); Upaya penelitian arkeologis bekas kota itu sampai kini belum ditemukan.
g. Dengan adanya Kerajaan Tarum ayang bercorak Hinduistis dimana agama Budha masih sangat terbatas seperti diberitakan Fa-hien tahun 414 M. Bagaimanapun kehidupan
masyaraktnya makin berkembang dalam berbagai aspeknya terlebih mulai mengenal tulisan (Pallawa) dan pengenalan bahasa (Sangsekerta), dengan kependudukan yang mulai
adanya hubungan antara penduduk setempat dengan bangsa India dan Cina. Perhubungan itu berarti adanya perdagangan yang sudah bersifat internasional.
Bagaimana perkembangan Kerajaan Taruma selanjutnya tidak dapat diketahui dengan pasti, karena berdasarkan pendapat beberapa ahli mungkin pada akhir abad ke 7 M, sudah
lenyap apakah akibat penaklukkan Sriwijaya apakah karena sebab lainnya, tidak begitu jelas. Masih banyak pertanyaan apakah ada kaitannya dengan peninggalan arkeologis
di Cibuaya terlebih di Batujaya? Bagaimana hubungannya dengan prasasti Simangambat dari pertengahan abad ke 9 M, dan Kerajaan Sunda dengan raja yang bernama Sri
Jayabhupati sebagaimana disebut dalam prasasti Citatih dari 1030 M, bagaimana kaitannya dengan Kerajaan Galuh di daerah Priangan Timur dari abad ke 8 M, kita belum
dapat memastikan, masih perlu penelitian lebih jauh. Dari semua pertanyaan itu bagaimana hubungannya dengan keberadaan masyarakat di Jakara, masih perlu jawaban yang
dihasilkan dari penelitian yang akurat. Tetapi lain halnya masa kemudian adanya hubungan kerajaan Sunda Pajajaran yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran dengan keadaan
masyarakat di Jakarta yang waktu itu merupakan salah satu kota pelabuhan Kalapa yang terpenting dari Kerajaan Sunda Pajajaran.
Bahan bacaan: Bambang Soemadio (Editor Khusus), Jaman Kuno Sejarah. Nasional Indonesia. Balai Pustaka DepartemenPendidikan dan Kebudayaan, 1984, hlm. 373-374; Atja,
Tjarita Parahiangan, Jajasan Kebudayaan Nusalarang, Bandung, 1968.
Hasan Djafar, “Prasasti-Prasasti dari Masa Kerajaan-Kerajaan Sunda”. Proceedings Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Universitan Pakuan Bogor-Yayasan
Pembangunan Jawa Barat, 1993.
Uka Tjandrasasmita, Sejarah Jakarta Dari Masa Prasejarah Sampai Batavia. Tahun +1750. Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum & Sejarah,1977; dan Pertumbuhan dan
Perkembangan Kota-Kota Muslim Di Indonesia Dari Abad XIII Sampai XVIII Masehi. Menara Kudus, Jakarta 2000. (Yahya Andi Saputra).
|