|
Rode lamp: Van Batavia Tot Jakarta Gang Mangga “lampu merah” pertama Batavia Oleh Ridwan Saidi
Seniman kroncong Achmad (85 tahun), mantan pemimpin Orkes Kroncong “Asli” tersinggung berat bila dikatakan kroncong berasal
dari Portugis. Cerita Achmad, di tahun 1960-an ia pernah mengundang Dubes Portugal ke sanggarnya. Dan YM Dubes tidak kenal
musik yang dimainkan Achmad dkk.
Kroncong adalah musik string. Instrumennya mulai dari biola, bas, cello, gitar, cuk dan cak keseluruhannya string. Kecuali cuk
dan cak, yang dimodifikasi di Indonesia, instrumen lain eks impor. Sebelumnya, alat musik string yang dikenal adalah gitar bulan
dari Cina. Gitar bulan tidak mempunyai kotak suara, body “gitar” ini tertutup. Instrumen string eks impor semuanya berlubang
(bhs Kawi: krancang). Krancang mengalami derivasi menjadi kroncong. Perubahan derivatif pada vocal dalam kosa kata Kawi lazim terjadi.
Musik ini diperkirakan lahir pada akhir abad ke-17 di Jassenbrug yang kini disebut Jembatan Batu. Pada masa itu Jassenbrug merupakan
tempat bersantai pada malam hari bagi pemuda dan pemudi. Para pemuda memetik gitar sambil bernyanyi lagu-lagu seperti Terang Bulan.
Terang boelan, terang boelan di kali
Boeaja timboel disangka lah mati
Djangan pertjaja moeloet lah lelaki
Branie soempa tapi takoet mati
Mereka “menjual” suara merayu gadis-gadis yang berdiri di loteng-loteng rumah di sederetan perumahan di sebelah selatan stasion KA Beos sekarang.
Ini adalah tradisi Eropa yang dibawa orang-orang Mestizo (peranakan Portugis-India). Orang-orang Mestizo asal India Selatan memang banyak yang
berpunya. Mereka juga menempati perumahan di daerah Pekojan, selain di kawasan Jassenbrug. Dari Jassenbrug Tuan belok ke kanan dimana terdapat
jalan yang disebut Jacatraweg. Pada mulut Jacatraweg terdapat gereja Sion yang kebaktiannya disampaikan dalam bahasa Portugis.
Kemudian hari perumahan orang Mestizo di Jassenbrug berpindah pemilikan ke orang Tionghoa. Musik kroncong terus berlagu, tapi gadis yang berdiri di loteng
bukan lagi perempuan Mestizo yang hitam manis, melainkan Macao Po. Gadis-gadis Macao peranakan Tionghoa-Portugis. Namun sebutan bagi gadis yang berdiri di
loteng dan gemar menabur senyum itu tidak berubah: moler, berasal dari perkataan Portugis yang artinya ‘perempuan.’ Tapi kata moler mendapatkan makna pejoratif
negatif yang maksudnya ‘perempuan jalang.’
Macao Po konsumsi kaipitein en luitenant Tionghoa dan orang Kumpeni yang pangkat-pangkat. “Buaya kroncong” bukan segmen konsumennya. Tapi sang “buaya kroncong”
tidak berhenti memetik gitar, “aih jiwa manis indung disayang!”
Baba dan Meneer boleh memiliki rode lamp (lampu merah) Macao Po, tapi rode lamp Gang Mangga beta yang punya, kata pemuda-pemuda Jassenbrug. Jika Tuan berjalan
melintasi Jassenbrug menuju timur, maka tibalah Tuan di jalan kampung yang bernama Gang Mangga. Ini adalah kompleks wanita P kelas menengah ke bawah pertama
di Batavia. Sampai abad ke-19 Gang Mangga masih tersenyum sumringah menyambut kedatangan tamu-tamunya. Tetapi tidak begitu halnya dengan tetamu yang pech (sial)
karena terkena penyakit sipilis. Menurut cerita orang tua-tua dulu, jongen (‘pemuda’) sial yang kepatil sipilis itu dikatakan terserang “sakit mangga.”
Karena serum anti biotic belum ditemukan, penyandang sakit mangga sering menghadap Sang Pencipta dan dikubur di sebelah wetan (‘timur’) Gang Mangga yang
kemudian hari dinamakan Gang Mangga Dua. Pech, jong (Sial, Bung). Konon dari ungkapan ini lahir kata pehong yang artinya ‘sakit sipilis.’
Surilang enjot-enjotan
Gang Mangga mengakhiri kisahnya pada pertengahan abad ke-19. Eks kompleks WTS menjadi pemukiman penduduk, nama Gang Mangga sendiri lenyap. Keseluruhan jalan
yang membentang dari Jassenbrug sampai pintu air Goenoeng Sari itu dinamakan Mangga Doea Weg.
Pada awal abad ke-19 hadir di tengah masyarakat tempat hiburan yang bernama suhian. Menurut ahli etnomusikologi Philips Yampolsky, suhian berjasa besar
memasyarakatkan musik gambang kromong ke tengah-tengah rakyat. Sebelumnya musik ini adalah “milik” orang berada.
Di suhian orang dapat mendengar musik gambang kromong sambil minum thee seraya menikmati suara merdu wayang ciokek (penyanyi gambang) membawakan lagu-lagu
dalem semisal Mawar Tumpa, Peca Piring, dan Semar Gundem. Lagu dalem tidak dapat dipake ngibing. Jenis lagu ini memang untuk dinikmati, berbeda halnya
dengan lagu-lagu sayur yang ramai bermunculan pada akhir abad ke-19 semisal Surilang, Glatik Nguknguk, Renggong Buyut, dan Stambul Jampang.
Lagu sayur memang untuk ngibing.
Di suhian tamu dapat berhubungan akrab dengan wayang ciokek, karena wayang ciokek tinggal di suhian. Namun tamu tidak boleh begendak (‘berbuat serong’)
dengan wayang ciokek di suhian. Ketertiban suhian sebagai tempat speciaal buat mendengarkan musik bernutu berantakan pada akhir abad ke-19. Gambang Kromong
tergusur dari suhian berikut wayang-wayang ciokek-nya. Suhian tetap ada, namun berubah fungsi menjadi rumah bordil. Suhian menjadi lahan bisnis baru bagi investor
lokal di jaman itu. Di banyak tempat di Betawi banyak dibuka suhian. Namun suhian yang mengalami disfungsi akhirnya rontok juga pamornya di awal abad ke-20
berhubung terlalu banyak terjadi skandal pembunuhan di tempat ini. Misalnya WTS top Batavia seorang perempuan Indo Fientje de Fenicks tewas di suhian Paal
Merah pada tahun 1919. Dan pada tahun yang berdekatan bintang suhian Kampung Bebek Nona Bong berakhir hidupnya dengan mengerikan. Juga Aisah, perempuan
Kampung Kramat, yang sering terlihat main di sebuah suhian bilangan Senen tewas dibunuh di rel kereta api tak jauh dari rumahnya pada era yang bersamaan.
Perang Dingin Kruschov-Eisenhower
Sampai di sini seolah hidung belang kehilangan lahan gaul, padahal tidak. Beriringan dengan tutupnya suhian muncul kompleks WTS di Gang Kaligot,
Sawah Besar, dan Gang Hauber, Petojo. Dalam rangka menjaring konsumen, WTS Gang Kaligot berkeliaran di sekitar bioskop Alhambra sampai Jembatan
Ciliwung di depan Gajah Mada Plaza sekarang. Penduduk menyebutnya “Jembatan Busuk” karena kalau malam bertiup aroma parfum WTS di sekitar itu.
Masa singkat pendudukan Jepang tidak memerosotkan pamor Gang Kaligot dan Gang Hauber. Hubungan seks haram terus berlangsung di kedua tempat itu di tengah-tengah
kebengisan tentara Dai Nippon. Bahkan tentara Dai Nippon berpartisipasi aktif sebagai konsumen pasar seks. Mereka mabuk-mabukan dan membuat keonaran.
Kelak ketika Belanda menduduki Jakarta dalam apa yang dinamakan “aksi polisionil,” di jalan masuk ke Gang Kaligot dan Gang Hauber digantung papan pengumuman
“Militair verboden toegang” (‘tentara dilarang masuk’).
Pendudukan Jepang yang singkat membawa derita yang amat hebat. Tempat WTS merambah ke gerbong-gerbong KA Senen. Sipilis merajalela, dari kata maharajalaila alias
penguasa malam. Tidak sedikit penduduk yang suka jajan di gerbong KA Senen mengalami ketewasan diterkam kuman sipilis.
Revolusi kemerdekaan tidak mengubah wajah Gang Kaligot dan Gang Hauber. Dan usai revolusi phisik, Jakarta dimangsa urbanisasi. Sebagian karena rekrutmen
adminsitrasi berhubung pemerintahan RI memerlukan tenaga pegawai untuk membangun birokrasi pemerintahan, dan sebagain lagi karena gangguan keamanan di daerah
yang ditimbulkan oleh pemberontakan DI. Dan ada lagi urbanisasi yang dikendalikan PKI untuk memperoleh vote menghadapi pemilu 1955. Sementara itu lokalisasi
WTS Gang Kaligot ditutup karena desakan penduduk. Dan Gang Hauber berganti nama menjadi Gang Sadar beriring dengan maraknya semangat anti Belanda berhubung
claim kita atas Irian Barat dan tuntutan pembubaran Unie Indonesia-Belanda.
Muncullah lampu merah murah meriah di Kota Paris, Galur, dan Planet Senen. Perang dingin Kruschov dan Eisenhower yang diwarnai dengan perlombaan satelit
menguasai angkasa luar dan planet, pengaruhnya sampai ke Senen. Dan munculah nama Planet Senen. Di dekat stasion KA Senen terdapat bukit kecil yang dalam
bahasa Betawi lama disebut poncol. Bukit kecil ini menjadi tempat WTS menjajakan diri. Bukit kecil alias poncol inilah yang dinamakan Planet.
Komplek WTS Kali Jodo muncul beriringan dengan memudarnya tempat ini sebagai arena Peh Tjoen karena larangan Walikota Jakarta Soediro tahun 1958 yang tidak
membenarkan peragaan kesenian dan kebudayaan Tionghoa. Sementara itu kompleks WTS Gang Sadar ditutup, juga karena desakan penduduk.
Revolusi dasamuka yang dicanangkan Bung Karno menderu bersipongang di seluruh jagat. Nekolim harus diganyang habis. Bumi gunjang-ganjing, kemiskinan kian menghebat.
Pemerintah menganjurkan makan jagung. Sekawanan Menteri Kabinet Gotong Royong bergambar bersama sambil memakan jagung, serupa nian dengan regu pramuka yang
tengah meniup horgol atawa harmonika. Indonesia keluar dari PBB, bantuan asing disepak ke luar pagar. Rakyat di daerah kesulitan pangan dan sudah banyak
penduduk yang memakan bongkot pisang. Bung Karno marah mendengar ejekan Indonesia kelaparan. Namun beliau seorang yang berjiwa seni. Kemarahan dituangkannya
dalam nyanyian berirama lenso:
Siapa bilang Bapak dari Blitar?
Bapak ini dari Prambanan
Siapa bilang rakyat Indonesia lapar?
Indonesia banyak makanan
Nyanyian tinggallah nyanyian. Jakarta kembali diserbu urbanisasi yang sebagiannya terselip pemburu kerja di lahan pelacuran. Jaringan rel KA Tenabang menjadi
ajang prostitusi kelas rendah, menyusul Rawa Bangke dan Kramat Tunggak. Dua tempat yang amat mengandung nilai histori.
Perang Eropa 1813 mengimbas Batavia. Perancis bersiap merebut Batavia dari tangan Ingeris. Inggris pun siap menyongsong serangan Perancis. Arsenal
meriam bertengger di sepanjang Matraman dengan moncong ke arah Gunung Sari. Tempat ini kemudian hari disebut Paal Meriam. Apa lacur, Perancis datang
dari Cakung menyusuri Pulo Gadung dan menusuk dari Meester Cornelis. Inggris kelabakan. Ratusan tentara Inggris tewas dan dikuburkan di rawa Meester Cornelis.
Rawa ini kemudian disebut Rawa Bangke. Inggris meninggalkan basecamp mereka di Matraman. Tempat ini betul-betul sebuah solitude (kesunyian). Maka
sayang sekali kalau Gang Solitude yang mempunyai nilai sejarah diganti begitu saja namanya oleh Pemprov DKI Jakarta.
Ada pun riwayat Kramat Tunggak tidak terlepas dari Prasasti Tugu peninggalan Purnawarman abad ke-5. Prasasti yang terapat di komsen (‘pertigaan jalan’) sebelah
selatan Kramat Tunggak itu dimana ke arah barat menuju Plumpang dan ke arah timur menuju Kampung Tugu, oleh orang Betawi dinamakan tunggak.
Dan tunggak ini dikramatkan.
Tempat yang mempunyai nilai sejarah itu pada jaman konfrontasi menjadi kompleks WTS. Kompleks WTS Rawa Bangke ditutup seiring dengan terbitnya Orde Baru,
dan berbarengan dengan itu kompleks WTS Kramat Tunggak diresmikan sebagai tempat lokalisasi.
Kebangkitan Orde baru juga meramaikan daerah operasi WTS di Prungpung dan sepanjang bypass Achmad Yani, serta Kebon Sayur, Jakarta Pusat. Namun Kebon
Sayur tidak lama beroperasi, kemudian ditutup.
Bungalow dan “ngak-ngik-ngok”
Dari jaman “federal”, 1946-1949, sampai jaman “leberal”, 1950-1958, sampai jaman Orde Lama transaski seks golongan yang sudah binnen, mereka yang berada
dalam kelas mapan, bersifat indirect, tidak langsung. Dalam tingkat wacana, percakapan mengarah seks terjadi di rumah-rumah bola, ball room, seperti Hotel
Des Indes (kini Carrefour, Red.) kelas tinggi, atau lantai dansa Happy World, Prinsen Park (kini Lokasari, Red.). Tapi dapat juga wacana transaksi terjadi
di tempat-tempat minum sperti Chez Mario di Gang Tibo (Thibault), Jl. Juanda III, atau Black Cat, Jl. Veteran. Ketika Hotel Des Indes ditutup sekitar tahun 1962,
tempat dansa Wisma Nusantara telah dibuka dua tahun sebelumnya sejak tahun 1960. Antara Wisma Nusantara dan Happy World terdapat kesetaraan dalam kelas,
namun berbeda dalam social origin pengunjung. Orang Tionghoa lebih menyukai Happy World, walaupun banyak juga yang menjadi pengunjung tetap Wisma Nusantara.
Tempat hiburan Sindang Laut di Sampur (Zandvoort) sekelas di bawah kedua tempat ini.
Bung Karno tidak melarang musik Barat, hanya “ngak-ngik-ngok” yang ia tidak suka. Di jaman Orla, Wisma Nusantara dan Happy World tetap berkibar menghidangkan
musik bermutu yang berbeda jenisnya. Musik lembut Glenn Miller dapat ditemukan di Happy World, tapi kalau mau mendengar jazz bermutu maka Wisma Nusantaralah
tempatnya. Di sini orang dapat mendengarkan Munif membawakan lagu September in the Rain. Dan Blue Moon Farid pun ada di sini.
Tentu saja finalisasi transaksi seks berlangsung di tempat lain. Yang populer adalah di bungalow, villa, di Puncak. Di jaman ini, Puncak berada di luar
jangkauan kelas menengah ke bawah. Itulah sebabnya golongan ini melakukan transaksi seks tanpa wacana. Langsung terjun ke pasar. Lebih irit!
Titik sebar pasar seks di Jakarta mendapatkan momentumnya ketika bendera Orba mulai berkibar. Sesuai dengan sifatnya yang tidak transparan, praktek prostitusi
di tempat yang dikreasikan Orba, semisal steambath, juga berlangsung dengan selubung kebugaran jasmani. Jalan Mangga Besar, Jalan Hayam Wuruk, dan (pernah)
Jalan Blora menjadi ajang perburuan hawa nafsu hewani.
Bagaimana dengan pasar seks di era reformasi, tampaknya status quo di segala bidang masih membayangi era ini. Walau terlihat indikasi meluasnya penggunaan
badan jalan sebagai sarana promosi pramu saji seks. Namun pernyataan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah reformasi belum merubah apa-apa. Mungkin benar
kata orang, perubahan yang nyata-nyata terjadi di jaman reformasi hanyalah maraknya penggunaan kata reformasi itu sendiri.
Orang Rusia yang sedang mempelajari bahasa Indonesia terkejut bukan kepalang tatkala ia menyadari bahwa kata reformasi dalam bahasa Rusia adalah prestroika.
Buat kami sekarang, katanya, kata prestroika itu berarti ‘bencana.’ Busyet!
|