TABE | LANGKAN | TAMPANG | PLAMPANG | NANGGAP | GEROBOG
    Juma'at, 03 Sep 2010
     
Adonan
SOHIBUL HIKAYAT
BEBULAN
PITUAH
SISIK MELIK
DEDENGKOT
PENGULEKAN
BODOR




Longok


 
Buku Bagi Yang Berhati Oleh Yahya A. Saputra

Judul : Behind Indonesia’s Headlines, Mengungkap Cerita Di Balik Berita (50 Kasus Asli Indonesia)

Pengarang : Christovita Wiloto
Penerbit : PowerPR Global Publishing
Tahun terbit : 2008
Tebal : liv + 265 halaman

Image sumpah serapah bersaut-sautan sepanjang jalan
mata-mata marah sepanjang jalan
wajah-wajah tegang, marah dan lelah sepanjang jalan
dari kota ke kota (hal. 121)

Itu kutipan bait puisi yang ditulis Christovita Wiloto (CW), mengekspresikan resah dan perih teramat sangat yang dirasakan rakyat, tersebab musibah luapan lumpur Lapindo. Uniknya, CW menuliskan simpati dan empatinya itu di atas roda dua dalam penjalanan Malang – Bandara Juanda Surabaya.

Orang yang tak pernah berhenti merasakan betapa telah lunglainya pertahanan rakyat atas gempuran berbagai musibah dan krisis, ragam bentuk ungkapan dapat ditelorkan, bahkan dalam bentuk bait-bait puisi. Itu salah satu keunggulan CW dalam mempertajam keterlibatan emosionalnya pada keluh-kesah kehidupan saudara-saudara sebangsanya di antero nusantara. Sebuah kepiawaian yang hanya dimiliki sosok manusia khusus, yang memahami esensi gejolak kehidupan.

Bagi saya, bait puisi yang dikutip di atas menggambarkan seluruh konteks keseharian negara kita. Betapa tidak? Kiprah dan ulah segelintir oknum yang berakibat fatal bagi keberlanjutan sebuah bangsa begitu nyata berseliweran di hadapan kita. Soeharto yang pongah dan Munir yang tragis, membuat Indonesia menangis sepanjang waktu.

Apatah lagi kehidupan rakyat tak kunjung normal sejak tahun 1998, tatkala Indonesia digerus krisis moneter. Agenda perbaikan ekonomi tak pernah digarap dengan tekun oleh pemerintah reformasi. Mereka senantiasa sibuk pemilu dengan derivasinya pilpres dan pilkada. Trilyunan rupiah berhamburan sebagai belanja iklan di media cetak dan elektronika, sebagai sogokan untuk mendapatkan tiket pencalonan, sebagai alat bujuk kepada rakyat agar datang ke TPS dan memilih diri atau partainya, sebagai biaya entertainment beraroma KKN. Yang harus memikul biaya itu pada gilirannya adalah rakyat, karena untuk menutupi ongkos politik, lazimnya APBN/APBD yang digerogoti. Perhatikan artikel ”Kampanye Elegan Melalui Media” (hal. 13 – 15), ”Kampanye” (hal. 17 – 19), ”Belitan Dana Pemilu” (hal. 201 – 203), dan ”66 Partai” (hal. 257 – 260).

Social origin elit Indonesia, baik yang berada dalam pemerintahan, politik, maupun bisnis, kebanyakan orang yang tumbuh dari keluarga sederhana. Reformasi menyediakan papan loncatan bagi mereka untuk melakukan lompatan di dalam gelap. Tak ada yang salah dengan kenyataan kemiskinan masa lalu seseorang; tapi menjadi masalah kalau terbit dendam terhadap kemiskinan masa lalu. Lalu bersimburat dalam perilaku hedonistik dan menghambur-hamburkan uang untuk belanja kedudukan.

Image Selalunya elit Indonesia gagal menyembunyikan masa lalunya karena saban saat itu akan muncul baik dalam caranya berbicara, berbusana, dan mengunyah makanan, atau dalam bersikap terhadap power dan authority, apalagi dalam memandang kekayaan dan kemewahan. Yang tak kalah merisaukan hati adalah lemahnya reading habit mereka. Karena itu mereka terkesima dan tak banyak omong ketika krisis global ekonomi dunia mulai melanda dan akan singgah dan bermalam di haribaan Indonesia untuk jangka waktu yang lama. Cermati artikel ”Reputasi vs Trust” (hal. 137 – 140), “Elit, Dialog Dong!” (hal. 151 – 153), ”No Trust Society” (hal. 161 – 163), ”Low Law Enforcement Society” (hal. 171 – 175), “Pembunuhan Karakter BI” (hal. 251 – 254).

Seorang menteri yang berasal dari partai agama berkata bahwa krisis ekonomi sekarang ini tak sebesar 1998. Ia berujar lagi akan membuka lapangan kerja baru dan memperbanyak UKM. Ia bicara dengan enteng tanpa peduli duduk permasalahan bahwa pakar ekonomi dunia mengatakan, krisis ekonomi sekarang yang terbesar selama 40 tahun terakhir.

Menteri lain berkata, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap dipatok enam persen tanpa argumentasi. Padahal Thailand, Malaysia, dan Singapura mengalami penurunan ekspor. Beberapa negara seperti Pakistan, Ukraina, dan Hongaria sudah meminta bantuan IMF yang sejatinya tak mampu berbuat apa-apa melainkan membuat laporan dan analisa yang kebanyakan pengamat susah tahu isinya.

Pemicu krisis ekonomi yang sekarang berbeda dengan lain-lain krisis yang pernah melanda dunia. Di tengah puing-puing keruntuhan yang menggoncang bangunan liberalisme, orang mulai menyimak China, India, dan Rusia yang relatif bertahan dalam krisis keuangan dunia. China survive karena negara berkepribadian yang dapat memanfaatkan apa yang oleh kalangan antropologi disebut local genius, kearifan lokal.

Banyak pengamat mengatakan kebangkitan ekonomi China karena pencerahan Konfucianisme. Sebenarnya ketat dan efisiennya organisasi Partai Komunis China (PKC), ikut mengantarkan China pada suksesnya sekarang. PKC bukan partai idiologi lagi, tetapi partai manajemen massa. Konfucianisme dan PKC menjadi modal sosial China membangun ekonominya dan mampu bertahan dari goncangan krisis global. Hal yang lebih dahsyat lagi, para penentu kebijakan di China saat ini berusia 45 – 50 tahun yang merupakan pemimpin generasi ke-6. Merekalah pemegang kendali pemerintahan baru 2007 – 2012, dengan fokus membangun ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Sebagai peminpin generasi ke-6, mereka menitikberatkan profesionalisme dan loyalitas, bukan idiologi. Simak artikel ”Jangan Menangis Indonesia” (hal. 215 – 218), ”Antara Australia & China” (hal. 245 – 248).

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu lalu berdampak melangitnya harga kebutuhan pokok hidup. Salah satu imbasnya pada keberlanjutan sekolah anak-anak, karena orang tuanya tak sanggup menyediakan biaya membayar kewajiban yang ditetapkan sekolah. Dan tentu saja menambah angka pengangguran. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memprediksi kenaikan harga BBM menambah angka putus sekolah mencapai 15 juta. Prediksi ini salah satunya dilihat dari jumlah anak putus sekolah pada 2007 yang sudah mencapai 11,7 juta. Angka ini naik 20 persen dari tahun 2006, yang jumlahnya sekitar 9.7 juta anak.

Survei yang dilakukan Komnas PA pada 33 provinsi di Indonesia, kasus putus sekolah yang paling menonjol terjadi di tingkat SMP, yaitu 48 persen. Sedang pada tingkat SD tercatat 23 persen dan di jenjang SMU sebesar 29 persen. Bila digabung berdasarkan usia pubertas (seusia SMP dan SMA), maka jumlah remaja putus sekolah tahun 2007 tak kurang dari 8 juta. Menjadi tugas semua komponen masyarakat untuk membuka institusi pendidikan berkualitas nomor wahid namun terjangkau. Jalan ini harus ditempuh, agar generasi penerus negeri ini mampu bersaing dalam dinamika kehidupan global. Renungkan artikel ”BBM vs Ambalat” (hal. 53 – 56), ”Bodoh dan Tamak” (hal. 195 – 198), ”Strategi Energi Indonesia” (hal. 227 – 231), ”Pendidikan Berkualitas dan Murah” (hal. 233 – 237).

Buku Behind Indonesia’s Headlines racikan CW ini memang unik. Rentang penulisan yang panjang (24 Agustus 2003 – 24 Maret 2008) memberinya ruang leluasa berbicara apa saja dan apa adanya. Alhasil, bukan saja 50 Kasus Asli Indonesia yang direkam, tapi lebih dari itu. Ini adalah jenis buku Bunga Rampai, meski topik bahasannya hinggap dari satu tema ke tema lain, namun renyah dibaca lantaran menggunakan narasi tak berbelit-belit. Tak disodorkan sebagai buku ilmiah dengan segudang konsep ilmu pengetahuan dan pilihan kata yang njlimet. Pembaca tentu tak dipaksa setuju atau tak setuju, ataupun setuju sebagian dan tak sejutu sebagian lainnya. Tapi tiap sikap harus berlandas alasan dan kewajiaban mengungkap pendapatnya.

Keunikan lain adalah kecerdikan CW dalam menyiapkan halaman khusus bagi 70 Komentar Tokoh Indonesia yang – bagi saya – merupakan suntikan darah segar kepada CW untuk jangan berhanti melakukan perenungan dan menumpahkannya dalam tulisan. ”Mereka (70 Tokoh Indonesia yang memberi komentar – ed) adalah aset penting bagi Indonesia, yang terus berjuang membuat Indonesia makin berkibar, menjadi bangsa yang disegani segala bangsa. Bangsa yang adil dan makmur bagi rakyatnya.” (hal. xv).

Benar belaka apa yang dicita-citakan CW melalui hasil olah pikirnya ini. Dedikasi kepada generasi muda penerus bangsa Indonesia, adalah segmen dan jalur yang paling pas. Silahkan generasi tua menyimak, tapi apatah gunanya manakala di ujung hidupnya berlomba berefleksi mencoba membersihkan diri dari segala maksiat dan dosa selama hidupnya. Menyasar generasi muda, adalah sebuah optimisme luhur. Generasi muda hari ini, menjadi penentu masa depan. Janganlah bangsa ini menjadi bangsa penuh ironi. ”Bangsa-bangsa lain telah bangun dan bekerja keras, ketika kita masih tertidur dan berlibur; bangsa-bangsa lain masih bangun dan bekerja keras, ketika kita sudah tertidur dan berlibur.” (hal. 79).

Buku ini dengan sengaja dipersembahkan bagi mereka yang berhati. Hati yang mau berbagi, hati yang penuh cinta, hati yang mau bergumul dengan segala persoalan manis, pahit, getir, serta asam garam kehidupan. Sehingga pada gilirannya dapat dikolaborasikan dengan kemajemukan positif yang ada menuju kejayaan Indonesia. Begitulah ide dan alur yang ditebar CW. Sebagaimana optimisme menggelegak dan tekad yang dipatri pada bait puisi di bawah ini;

karena waktu
waktu yang kukejar
agar cinta segera kutemui (hal. 123). ??

• Yahya A. Saputra, wartawan majalah Cakram dan Penanggungjawab Situs www.kampungbetawi.com



Copyright ©2006 kampungbetawi.Com. AllRights Reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang meng-copy seluruh atau bagian dari isi situs ini tanpa seijin kampungbetawi.com